Advertisement

iklan

Prospek Ekonomi Global Mengkhawatirkan, Forex Berkonsolidasi

Penulis

+ -

Rebound dolar AS terhambat, tetapi beragam mata uang lain juga sukar melanjutkan reli masing-masing. Pasalnya, prospek ekonomi global benar-benar memburuk.

iklan

iklan

Seputarforex - Upaya rebound indeks dolar AS (DXY) terhambat di bawah ambang 106.00. Kendati demikian, beragam mata uang lain mengalami tekanan dalam sesi Asia hari Kamis (8/Desember) lantaran memburuknya sinyal ekonomi global.

AUD/USD tertekan pada kisaran 0.6710-an. Sementara itu, EUR/USD, NZD/USD, dan GBP/USD bergerak sideways dalam rentang yang sangat sempit hingga nyaris flat.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Beberapa bank multinasional besar asal Amerika Serikat kemarin kembali menegaskan peringatan tentang perlambatan ekonomi pada tahun 2023 mendatang. Pasalnya, dampak dari tingkat inflasi dan suku bunga yang tinggi akan benar-benar menghantam permintaan konsumen.

"Perekonomian global melambat, dan risikonya ke arah bawah," kata Seth Carpenter, Kepala Ekonom Global Morgan Stanley, "Kita berada di tepi definisi 'resesi' yang longgar (situasi antara perlambatan ekonomi yang melambat signifikan dan pertumbuhan ekonomi yang negatif -red)."

Citi mensinyalir Zona Euro dan Inggris akan memasuki masa resesi pada akhir tahun ini, sedangkan AS akan mengalaminya pada pertengahan 2023. BNP Paribas juga menyampaikan prediksi yang buruk untuk tahun 2023, ditandai dengan resesi di AS dan Zona Euro, serta perlambatan pertumbuhan yang tajam di China dan beberapa negara berkembang.

Publikasi data Gross Domestic Product (GDP) dari sejumlah negara utama selama beberapa hari terakhir mempertegas ancaman resesi tersebut. Data GDP Jepang pagi ini mengalami perbaikan dibanding periode sebelumnya, tetapi masih dalam teritori negatif dengan hasil -0.8% (Year-on-Year) untuk kuartal III/2022.

Pertumbuhan GDP Australia hanya mencapai 5.9% (Year-on-Year) pada kuartal III/2022. Meleset dibandingkan estimasi konsensus yang dipatok pada 6.2 persen (Year-on-Year), meskipun masih bertumbuh dari periode sebelumnya.

Eurostat melaporkan pertumbuhan GDP Zona Euro mencapai 2.3% (Year-on-Year) untuk periode yang sama. Mengungguli estimasi konsensus, tetapi merosot tajam dibandingkan pertumbuhan 4.2% (Year-on-Year) dalam periode sebelumnya.

Perlambatan ekonomi global lazimnya menyokong kurs dolar AS sebagai salah satu aset safe haven. Akan tetapi, greenback juga tengah menghadapi ketidakpastian terkait proyeksi suku bunga The Fed mendatang. Federal Reserve ingin memperlambat laju kenaikan suku bunga berikutnya, tetapi data-data ekonomi AS membuktikan bahwa laju inflasi tetap tinggi dan membutuhkan kenaikan suku bunga secara agresif.

Download Seputarforex App

298652
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.