Advertisement

iklan

Reli Dolar AS Terpacu Inflasi Di Tengah Sengketa Dengan China

Penulis

+ -

Rilis data inflasi AS memicu pergolakan hebat dalam major pairs, sehingga indeks dolar AS kembali mendekati level 110.00.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) mundur tipis ke kisaran 109.70-an pada sesi Asia hari ini (14/September). Kendati demikian, greenback sebenarnya telah menguat pesat pada sesi New York berkat publikasi laporan inflasi Amerika Serikat yang jauh melampaui estimasi konsensus. Major pairs bergolak antara 1-2 persen dalam satu sesi, sehingga menggenjot indeks dolar AS (DXY) kembali mendekati level 110.00.

DXY Weekly Grafik DXY Weekly via TradingView

Data inflasi AS menunjukkan pertumbuhan harga-harga +0.1 persen (Month-over-Month) dalam Agustus 2022, bukannya -0.1 persen seperti yang diperkirakan oleh konsensus. Laju inflasi tahunan juga hanya turun tipis dari 8.5 persen menjadi 8.3 persen, meskipun konsensus sebelumnya memperkirakan perlambatan sampai 8.1 persen (Year-on-Year).

Data-data tersebut membuktikan bahwa laju inflasi AS masih bercokol pada level tinggi, serta jauh dari target inflasi The Fed. Selaras dengan itu, pasar sepenuhnya yakin bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga 75 basis poin dalam rapat FOMC bulan ini. Data pasar uang bahkan mengisyaratkan adanya segelintir trader yang mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sampai 100 basis poin.

"Para pejabat Fed telah menjelaskan mereka tidak akan memperlambat laju kenaikan suku bunga hingga mereka melihat bukti yang meyakinkan bahwa tekanan inflasi inti telah mereda secara bertahap. Data (inflasi AS) ini berarti bahwa peluang untuk kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin telah sirna. Tapi peluang 20 persen untuk kenaikan 100 basis poin yang sekarang diperhitungkan (di pasar uang) itu tampaknya berlebihan," kata Ian Shepherdson, Kepala Ekonom Pantheon Macroeconomics.

Seiring dengan meningkatnya suku bunga AS, reli dolar AS berpeluang untuk terus berlanjut ke depan. Hanya saja, sejumlah kabar geopolitik berpotensi menghadirkan ketidakpastian baru.

Media massa melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan sanksi kepada Beijing untuk menanggulangi  ancaman invasi China ke Taiwan. Taipei juga mendesak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi serupa. Padahal, sanksi seperti itu dapat merusak perdagangan global dan memperburuk relasi China dengan Barat.

Yuan China terjun menuju level paling lemah dalam dua tahun terakhir, sedangkan minat risiko pasar terhempas. Bursa saham Asia terperosok lantaran terimbas oleh duet inflasi AS dan risiko geopolitik tersebut. Kurs AUD/USD merosot lebih lanjut ke rentang terendah pada kisaran 0.6720-an. Di sisi lain, minat risiko yang memburuk justru berkontribusi memperkuat kurs yen terhadap dolar AS untuk sementara waktu.

Download Seputarforex App

298234
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.