Advertisement

iklan

Reli Harga Minyak Gapai Level Tertinggi Sejak Tahun 2014

Reli harga Minyak didukung oleh pelemahan Dolar AS, komitmen Arab Saudi, serta penurunan inventori Minyak Mentah di Amerika Serikat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak reli nonstop sejak awal pekan hingga sesi perdagangan Eropa hari Kamis ini (25/Januari). Harga Minyak Brent bertengger di angka $71 per barel setelah mengalami kenaikan harian sebesar 0.38%, sedangkan WTI meroket 0.62% ke $66.26 per barel; keduanya telah menanjak nyaris 60 persen sejak pertengahan tahun lalu dan berada di posisi tertinggi sejak tahun 2014. Reli kali ini didukung oleh pelemahan Dolar AS, komitmen Arab Saudi untuk mendongkrak harga Minyak, serta penurunan inventori Minyak Mentah di Amerika Serikat.

Harga Minyak

 

Tiga Faktor Pendukung Harga Minyak

Kesepakatan pemangkasan output yang dilaksanakan oleh negara-negara OPEC dan sejumlah produsen minyak lainnya sejak Januari 2017, dijadwalkan berlangsung hingga akhir tahun 2018. Namun, awal pekan ini, Menteri Energi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, menyatakan kerjasama mengendalikan produksi akan berlanjut hingga setelah kesepakatan pemangkasan output pada akhir tahun 2018 berakhir.

Greg McKenna, pimpinan pakar strategi pasar di broker AxiTrader, mengatakan, "(Pemangkasan output) itu, Dolar jatuh, berikut penurunan inventori yang lain, bergabung untuk menggerakkan (Minyak) naik."

Pada hari Rabu, Energy Information Administration (EIA) mengumumkan bahwa Inventori Minyak Mentah AS berkurang sebesar 1.1 juta barel dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 19 Januari, ke angka total 411.58 juta barel. Ini merupakan level terendah musiman sejak tahun 2015, dan lebih rendah dari ambang rerata lima tahunan pada kisaran 420 juta barel.

Dolar AS terdampar ke level terendahnya sejak Desember 2014 lantaran berbagai ketidakpastian seperti kisruh Anggaran Pemerintah AS dan ancaman perang dagang yang muncul dari kebijakan Presiden Donald Trump. Pelemahan Dolar AS tersebut memicu para pelaku pasar menarik investasinya dari pasar uang untuk dialihkan ke pasar komoditas, termasuk Minyak.

 

Bisa Lebih Tinggi Lagi, Tapi... 

Fereidun Fesheraki, pimpinan lembaga konsultan FACTS Global Energy, mengungkapkan pada Reuters bahwa kenaikan harga Minyak bisa berlanjut lebih tinggi lagi. Paparnya, "Pasar sangat ketat...Masalahnya dengan kondisi ini adalah jika terjadi sesuatu di katakanlah, Libya, dan produksi menurun sebanyak 500,000 barel (per hari), maka (Brent) itu bisa naik sampai $75 per Mei."

Di sisi lain, rilis laporan bulanan International Energy Agency (IEA) baru-baru ini mengungkap adanya risiko bagi harga Minyak ke depan. Lembaga afiliasi OECD yang berpusat di Paris itu memperingatkan bahwa pesatnya laju produksi minyak di Amerika Serikat akan mementahkan sejumlah faktor positif yang mendukung harga minyak, termasuk berlanjutnya pemangkasan output OPEC. Produksi minyak mentah AS per 12 Januari berada pada laju 9.75 juta barel per hari (bph); tetapi IEA mengekspektasikan akan segera melampaui 10 juta bph dalam waktu dekat, melampaui laju produksi Arab Saudi maupun Rusia.

282100

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.