Advertisement

iklan

Reli Sterling Macet Setelah Capai Tertinggi Sepekan

Sejumlah faktor mendukung reli Poundsterling ke rekor tertinggi sepekan terhadap Dolar AS. Namun, penguatan ini dikhawatirkan tidak bertahan lama.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pound sempat reli ke rekor tertinggi sepekan versus Dolar AS kemarin, menyusul berita lonjakan pengangguran di Amerika Serikat. Keputusan bank sentral Inggris (BoE) untuk tidak mengubah kebijakan moneter-nya juga turut menopang posisi Pound terhadap sejumlah mata uang mayor lain. Akan tetapi, GBP/USD dan GBP/JPY terpantau melangkah mundur pada awal sesi Eropa hari ini (27/Maret).

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Pemulihan Pound selama beberapa hari terakhir sebenarnya sangat berhubungan dengan mencuatnya sentimen risk-on, ditandai oleh kenaikan indeks FTSE 100 hingga 12 persen dalam sepekan. Akan tetapi, Pound masih sangat sensitif terhadap potensi capital flight lanjutan di tengah situasi yang masih jauh dari stabil.

Para analis menyampaikan pandangan berbeda-beda tentang proyeksi arah nilai tukar Pound ke depan. Sebagian menilai Pound masih bisa reli lebih lanjut dalam jangka pendek, tetapi pakar dari Barclays menilai Pound akan terus tertekan sepanjang sisa tahun ini.

"GBP bisa terus mendapatkan manfaat dari situasi yang membaik, khususnya karena BoE tidak memberikan kejutan khusus apa pun," ujar Marc André Fongern dari Fongern Global Forex.

Quek Ser Leang, seorang analis UOB, merinci lebih gamblang, "Reli dalam GBP bisa berlanjut. Reli yang kuat dalam GBP menghasilkan kenaikan 2.84 persen secara mengejutkan (kemarin). Momentum kenaikan tetap tangguh dan meski overbought, reli saat ini bisa diperpanjang menuju 1.2330."

Di sisi lain, Barclays menyampaikan proyeksi jangka menengah yang lebih suram, karena dunia diperkirakan akan mengalami resesi hampir separah tahun 2009. Mereka mensinyalir China hanya akan tumbuh 1.3%, Zona Euro -5.5%, Jepang -1.6%, AS -0.6%, dan Inggris -1.1%. Dalam situasi seperti itu, mata uang seperti Dolar AS dan Yen Jepang biasanya menguat, sedangkan mata uang seperti Sterling bakal melemah.

"Kami telah merevisi forecast GBP kami jauh lebih rendah dan memperkirakan hanya penguatan terbatas versus EUR, dari level undervaluation signifikan," kata Ajay Rajadhyaksha, pimpinan riset makro di Barclays.

Sementara itu, keputusan BoE untuk tidak mengubah kebijakan kemarin juga berkaitan dengan perubahan suku bunga drastis yang telah dilakukan awal bulan ini. Bank sentral menilai perlu untuk memantau efektivitas perubahan kebijakan yang sudah dilakukan terlebih dahulu, sebelum melancarkan aksi tambahan guna menopang perekonomian. Sejumlah analis menilai BoE kelak akan mengumumkan perubahan kebijakan dadakan lagi sebelum jadwal rapat kebijakan berikutnya tiba, karena lockdown nasional bakal berdampak lebih buruk bagi perekonomian.

292460

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.