Advertisement

iklan

Resolusi Isu-Isu Penting Minggu Ini Pasca FOMC

Penulis

+ -

Rapat FOMC yang berakhir kemarin menghadiahkan kejutan bagi pemain pasar. Gubernur baru bank sentral AS, Janet Yellen, mengatakan bahwa suku bunga mungkin akan dinaikkan sekitar enam bulan setelah tapering berakhir. Akibatnya, USD yang sebelumnya tertekan langsung kembali merajai chart, menguat terhadap seluruh pair major.

iklan

iklan

Rapat FOMC yang berakhir kemarin menghadiahkan kejutan bagi pemain pasar. Gubernur baru bank sentral AS, Janet Yellen, mengatakan bahwa suku bunga mungkin akan dinaikkan sekitar enam bulan setelah tapering berakhir. Akibatnya, USD yang sebelumnya tertekan langsung kembali merajai chart, menguat terhadap seluruh pair major.
dollar menguat pasca fomc Positif Bagi Greenback
Sesuai dugaan, kemarin FOMC memotong 10milyar USD lagi dari stimulus hingga sekarang tinggal 55milyar USD, dan menggeser acuan kebijakannya, dengan tidak lagi mematok angka pengangguran maksimal sebelum menaikkan suku bunga. Yang tidak terduga adalah kenaikan suku bunga yang 'diprediksi' oleh Yellen akan terjadi enam bulan setelah program stimulus habis di-taper. Dengan perkiraan tapering terakhir terjadi pada Oktober atau November, maka berarti suku bunga akan naik April atau Mei. Padahal berdasarkan patokan yang lama, kenaikan suku bunga paling cepat baru akan terjadi menjelang akhir tahun 2015. Selain ucapan Yellen menguatnya USD juga disebabkan oleh outlook AS yang dipandang jauh lebih baik oleh pejabat the Fed.

Kebanyakan pejabat the Fed dalam rapat kemarin mengharapkan suku bunga yang sekarang berada di 0,25% untuk berada utuh 1% di akhir 2015, yang berarti pasar bisa mengharapkan kenaikan bertahap suku bunga tahun depan. Ini karena the Fed memproyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kisaran 2,8-3,0% tahun ini dan sekitar 3-3,2% pada 2015. Sedangkan angka pengangguran yang terus jadi masalah diharapkan menipis ke 6,1-6,3% di akhir 2014 dan turun ke 5,6-5,9% di akhir 2015. Inflasi berdasarkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) juga diproyeksikan naik sekitar 1,5-1,6% tahun ini dan 1,5-2,0% tahun depan, menepis spekulasi AS akan masuk ke zona deflasi.

Ray Attrill dari National Australia Bank dikutip oleh CNBC mengatakan, selama data-data ekonomi AS yang akan datang mendukung asumsi-asumsi the Fed tersebut, maka Dollar akan terus menguat. Tetapi jika data mengecewakan, maka bisa memaksa Dollar untuk melepaskan penguatannya. Namun demikian, Attrill optimis data ekonomi AS akan mulai meningkat, dan berdasarkan hal itu maka berarti penguatan dollar dimulai.

Proyeksi positif the Fed tersebut menyetel posisi bullish AS seketika di pasar, melorotkan nilai semua rival USD di pair major, emas, bahkan saham-saham Asia. Melemahnya rival USD juga ikut menyeret Euro yang selama ini overpriced ke tingkat harga normal di kisaran 1.3800, menghapus sementara kekhawatiran bahwa Bank Sentral Eropa akan campur tangan untuk mendepresiasi Euro. Tren bullish Euro takkan gampang dihentikan, tetapi setidaknya lajunya sedikit terhambat.

Bom Utang Cina Masih Berdetik, Ukraina Menyerah
Greenback bisa berjaya dengan mudahnya juga disebabkan karena faktor-faktor lain yang membebani pasar kini telah memudar. Bom waktu ekonomi Cina masih berdetik, tapi sepertinya walaupun meletus takkan mengakibatkan kerusakan parah. Sedangkan Ukraina akhirnya menyerah kalah pada pendudukan Rusia atas wilayah Crimea. Kedua berita ini memang tak seheboh kabar the Fed, tetapi perlu kiranya dibahas sekilas.
masalah utang perusahaan-perusahaan di cinaSatu lagi perusahaan finansial menurunkan ekspektasi pertumbuhan Cina. Setelah Merryl-Lynch, Barclays, dan Nomura, kini Goldman Sachs memangkas estimasi pertumbuhan Cina 2014 dari 7,6% menjadi 7,3%. Munculnya beberapa kasus kredit macet akhir-akhir ini dan beberapa faktor lain disebut-sebut akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan jangka pendek negara Tirai Bambu. Namun demikian, Goldman Sachs juga telah menyatakan bahwa kredit macet yang sudah terjadi tidak akan memburuk secara sistemik. Akan ada lebih banyak lagi perusahaan berbasis di Cina mengalami gagal bayar, tetapi diperkirakan Pemerintah Cina akan proaktif mengatasi masalah ini dengan berbagai cara, termasuk menyiapkan dana talangan (bailout).

Disisi lain, Ukraina nampaknya harus bertekuk lutut pada Rusia. Sehari setelah Rusia mengumumkan pencaplokan wilayah Crimea, Pemerintah Ukraina mulai menyusun rencana untuk mengevakuasi tentaranya dari semenanjung Crimea ke Ukraina daratan. Sementara itu, AS dan Eropa nampaknya hanya setengah hati dalam menyikapi aneksasi Crimea oleh Rusia. Secara politis, Rusia memang harus ditindak tegas. Tetapi secara ekonomis, bila sanksi yang diterapkan terlalu berat, maka semua negara lain yang punya hubungan ekonomi dengan Rusia akan terkena imbasnya, termasuk Jerman. Ini secara efektif menghapuskan kerisauan pasar kalau konflik ini akan berdampak negatif pada pasar finansial Dunia.

166989

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan SeputarForex!

Baca Selengkapnya Di Sini