PPRE: Siap Incar Kontrak Rp6 Triliun Tahun Depan

Emiten BUMN melanjutkan optimisme di tengah ketidakpastian tahun politik. Proyek infrastruktur masih menjadi andalan di tahun depan, terlihat dari rencana emiten PPRE.

acy

iklan

Advertisement

iklan

PT PP Presisi Tbk menyebut kapasitas alat berat yang saat ini dimiliki siap untuk mendukung pertumbuhan perseroan di tahun depan. Perusahaan konstruksi terintegrasi berbasis alat berat tersebut menetapkan target kontrak baru pada tahun 2019 sebesar Rp5.5 triliun-Rp6 triliun. Selain itu, emiten dengan kode saham PPRE tersebut juga menetapkan target pendapatan sebesar Rp4 triliun-Rp4.5 triliun, dengan mengincar proyek-proyek infrastruktur.

PPRE : Siap Incar Kontrak Rp 6 Triliun

"Kami membidik proyek-proyek infrastruktur seperti pelabuhan Patimban paket I & IV, pembangunan jalur kereta api Lahat-Muara Enim, pembangunan tanggul raksasa Ciujung Serang, PLTA Asahan 3, runway bandara Minangkabau, bandara Kediri, serta beberapa proyek dredging dan pertambangan," terang Benny Pidakso, Direktur Keuangan PP Presisi.

Saat ini, PPRE memiliki mobile fleet sekitar 2,400 units, antara lain 361 excavator 361, 1,606 dump truck, 92 bulldozer, 160 roller, loader & grader, 131 mixer truck, 13 concreate pavers, 11 asphalt mixer & finisher, serta 14 stone crusher: 14. Rata-rata usia peralatan tersebut adalah 1.7 tahun.

Mobile fleet berasal dari brand-brand ternama antara lain, Caterpillar, Liebherr, Bomag, Wirtgen, Sumitomo, Komatsu, Kobelco, Hino, Sakai, dan sebagainya. Sedangkan untuk non-mobile fleet, PPRE memiliki lebih kurang 150 units, antara lain 86 tower crane, 28 crawler crane, 27 passenger hoist, 17 batching plant, 8 bored pile, dan sebagainya.

 

Belanja Modal

Dengan dukungan fleet dari brand ternama dan dalam jumlah besar, PPRE telah mengerjakan proyek-proyek infrastruktur strategis nasional seperti proyek tol Bakauheni-Sidomulyo yang merupakan bagian dari tol trans Sumatra, serta proyek tol Pandaan-Malang. Perseroan juga terlibat pada proyek tol Manado-Bitung, proyek runway 3 bandara internasional Soekarno-Hatta (Soetta), bandara Kulon Progo, bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, bendungan Way Sekampung, serta bendungan Leuwi Keris.

Kapasitas fleet tersebut akan bertambah di tahun depan, seiring dengan capex yang dianggarkan sebesar Rp1 triliun-Rp1.5 triliun, yang sekitar 70% di antaranya akan dialokasikan untuk pembelian alat-alat berat.

"Di samping kapasitas fleet, pertumbuhan berkelanjutan di tahun mendatang juga didukung oleh kemampuan likuiditas perseroan yang per 30 September 2018 mencatat current ratio sebesar 2.3x, dan kemampuan leveraging yang masih terbuka lebar, yang mana per 30 September 2018 mencatat debt to equity ratio sebesar 0.8x serta net debt/EBITDA (TTM) sebesar 1.2x," ujar Benny Pidakso.

286678

Penulis lepas bidang saham yang juga merupakan investor pasar modal. Selain itu, Alia merupakan pemerhati aksi korporasi emiten. Penulis sudah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam tulis-menulis sektor ekonomi dan update terhadap isu-isu nasional.