Advertisement

iklan

Senat Setuju Stimulus Fiskal 2 Triliun, Dolar AS Stabil

Senat AS berhasil menyepakati peluncuran paket stimulus fiskal sebesar USD2 Triliun untuk menanggulangi perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS mengerem penurunannya verus sebagian besar mata uang mayor pada perdagangan sesi Asia hari ini (25/Maret). Senat AS berhasil menyepakati peluncuran anggaran stimulus fiskal sebesar USD2 Triliun untuk menanggulangi perlambatan ekonomi akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Paket tersebut merupakan suplemen bagi program Quantitative Easing The Fed yang telah ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar.

DXY Daily

Rencana anggaran penanggulangan pandemi COVID-19 sempat macet beberapa hari di Senat AS, karena kubu Demokrat dan Republik kesulitan menyepakati sejumlah isu krusial. Namun, setelah perundingan selama berhari-hari, akhirnya sebuah kesepakatan bipartisan untuk stimulus terbesar dalam sejarah ekonomi AS ini berhasil dicapai.

"Kita punya sebuah kesepakatan," kata Eric Ueland, direktur urusan legislatif Gedung Putih, sebagaimana dikutip oleh The Guardian. Ia menambahkan bahwa teks perundangan belum final, tetapi "Kita antara punya teks legislatif eksplisit dan jelas merefleksikan semua partai, atau kita tahu dengan tepat di mana kita akan mencapai pada teks legislatif selagi kita melanjutkan ke final."

Kabar tersebut dikonfirmasi pula oleh pimpinan Senat, Mitch McConnell. Rencana anggaran ini selanjutnya akan dibahas di House of Representative, sebelum kemudian diajukan untuk ditandatangani oleh Presiden Donald Trump.

Prospek stimulus masif dari pemerintah Amerika Serikat ikut mengokohkan sentimen pasar di bursa Asia, meskipun reli mata uang-mata uang high risk mulai melambat. Pasangan mata uang AUD/USD sempat mendaki sampai 0.6030, sementara NZD/USD masih menduduki level 0.5872 saat berita ditulis. Pasar agaknya sudah selesai menelaah berita pelonggaran lockdown provinsi Hubei kemarin.

"Ini sebuah rebound yang bagus dan kita mungkin akan mempertahankannya selama sesi Asia, tetapi apakah mood ini bisa bertahan 24 jam dari sekarang, saya tak yakin," kata analis forex Westpac, Sean Callow, sebagaimana dikutip Reuters, "Gambaran (pandemi COVID-19) secara keseluruhan masih sangat suram dan hampir pasti akan memburuk."

Italia sudah mengambil alih posisi puncak jumlah korban meninggal terbesar di dunia dari tangan China sejak beberapa hari lalu. Kemarin, Spanyol mengakuisisi posisi jumlah korban terbesar ketiga dunia dari tangan Iran. Perkembangan yang sangat cepat dan drastis ini bisa menyeret AS dalam waktu dekat.

WHO mengatakan bahwa New York berpotensi menjadi episentrum pandemi COVID-19 selanjutnya, setelah Wuhan dan Italia. Amerika Serikat saat ini menduduki peringkat jumlah korban meninggal terbanyak keenam dan total kasus terbesar ketiga di dunia. Dua negara lain yang mencatat jumlah korban terinfeksi lebih besar, yaitu China dan Italia, telah melaporkan perlambatan kenaikan kasus positif maupun korban meninggal.

292432

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.