Advertisement

iklan

Sengketa Soal Stimulus Fiskal Bikin Euro Digempur Dolar

Sementara krisis akibat epidemi COVID-19 semakin berlarut-larut, kawasan Euro belum mampu menyepakati upaya bersama untuk menyelamatkan perekonomian.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Euro mengalami penurunan selama empat hari beruntun hingga terpuruk pada level 1.0930-an pada awal perdagangan sesi Eropa hari ini (2/April). Pelaku pasar frustasi menyaksikan ketidakmampuan negara-negara anggota Zona Euro untuk menyepakati suatu langkah bersama dalam menanggulangi dampak ekonomi dari epidemi virus Corona (COVID-19).

EURUSD DailyGrafik EUR/USD Daily via Tradingview.com

Berbagai negara di seluruh dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan anggaran belanja pemerintah dan meluncurkan bantuan fiskal kepada masyarakat dalam masa krisis ini hingga triliunan dolar. Mulai dari Inggris, New Zealand, hingga Amerika Serikat, pemerintah negara-negara maju tak ragu untuk menanggung utang lebih besar demi menalangi kemunduran ekonomi. Akan tetapi, negara-negara Zona Euro malah terus bergumul dalam negosiasi politik.

Pekan lalu, wacana "obligasi Corona" sempat dilontarkan sebagai alternatif penggalangan dana bersama. Obligasi tersebut diharapkan dapat diterbitkan dengan dukungan semua negara anggota Zona Euro untuk memperoleh dana segar yang dapat disuntikkan ke perekonomian. Akan tetapi, ide itu terus menerus menghadapi perlawanan kuat dari negara-negara ekonomi tangguh seperti Jerman, Belanda, dan Austria.

Jerman dkk lebih memilih pemberian bailout dari European Stability Mechanism untuk negara yang membutuhkan bantuan ekonomi; suatu hal yang justru berpotensi menempatkan negara-negara rapuh seperti Italia dan Yunani dalam posisi menanggung defisit lebih besar lagi. Kesenjangan ekonomi antara anggota Zona Euro yang memiliki perekonomian kuat dan lemah kian mencolok, hingga membangkitkan kembali isu keberlanjutan kesatuan ekonomi Eropa ini.

"Kita semua tahu bahwa kekuatan sebuah hubungan dapat sangat diuji pada masa-masa krisis. Hal ini sangat nyata sekarang di Uni Eropa, dan Euro tidak menerimanya dengan baik. Tak ada persetujuan tentang bagaimana cara membantu negara-negara anggota yang paling terdampak oleh virus," kata Thu Lan Nguyen dari Commerzbank.

Jan Hatzius, kepala ekonom Goldman Sachs, menuturkan lebih lugas dalam catatannya baru-baru ini, "Krisis di Italia juga telah membangkitkan ketakutan tentang perpecahan mata uang tunggal (Euro). Dalam lingkungan di mana ada fokus tersisa pada pembatasan sukarela seperti aturan anggaran Uni Eropa dan batasan penerbitan (obligasi) ECB, ketakutan-ketakutan ini bisa tumbuh lebih lanjut dalam pekan-pekan ke depan. Tapi jika kawasan Euro memutuskan untuk memandang dirinya sendiri sebagai sebuah negara ekonomi tunggal -setidaknya selama wabah dan setelahnya- mereka sebenarnya akan berada dalam posisi yang cukup kuat."

Wacana obligasi Corona saat ini telah dikesampingkan oleh para pejabat top Eropa. Event yang patut diamati selanjutnya adalah ajang pertemuan para menteri keuangan Uni Eropa pada tanggal 7 April, di mana mereka akan membahas alternatif lain yang layak diambil guna menanggapi krisis yang sedang berkembang.

292520

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.