Advertisement

iklan

Anggota Kongres AS meminta penggantian Ketua SEC, Gary Gensler, dengan alasan penyalahgunaan kekuasaan dan promosi agenda politik yang kontroversial, 1 hari, #Kripto Fundamental   |   Kondisi jenuh jual berpotensi memicu koreksi XAU/USD, 1 hari, #Emas Teknikal   |   USD/CHF bertahan di dekat puncak beberapa bulan, di atas level 0.9200 berkat penguatan USD, 1 hari, #Forex Teknikal   |   Menurut analisa UOB, pergerakan EUR/USD selanjutnya adalah di level 1.0430, 1 hari, #Forex Teknikal   |   Emiten rumah sakit, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) menargetkan pendapatan usaha perseroan tumbuh 30% pada 2023, 1 hari, #Saham Indonesia   |   Kepala Eksekutif Meta Platforms (NASDAQ: META), Mark Zuckerberg, meluncurkan produk AI baru untuk konsumen pada hari Rabu, 1 hari, #Saham AS   |   Komisi Perdagangan Federal AS mengajukan gugatan antimonopoli terhadap Amazon.com (NASDAQ: AMZN) dan meminta pengadilan untuk mempertimbangkan memaksa peritel online tersebut menjual asetnya, 1 hari, #Saham AS   |   Saham C3.ai (NYSE: AI) Inc. mengalami kenaikan signifikan sebesar 3.34% menjadi $24.42 pada hari Rabu, mengakhiri penurunan beruntun selama lima hari, 1 hari, #Saham AS
Selengkapnya

Setelah Melonjak, Minyak Nantikan Data Ekonomi AS dan China

Penulis

Harga minyak stabil setelah melesat pada akhir pekan lalu. Pasar tengah menanti rilis data ekonomi AS dan China untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek permintaan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex - Harga minyak mentah terpantau stabil pada pembukaan perdagangan awal pekan (08/Mei) setelah menguat cukup signifikan akibat pelemahan Dolar AS. Pada saat berita ini dimuat, harga minyak Brent bergerak pada kisaran $75.61 per barel, sementara minyak WTI bullish di harga $71.49 per barel.

Harga Minyak Stabil

Publikasi data Non-Farm Payroll pada Jumat lalu menunjukkan peningkatan 253k, lebih tinggi dari ekspektasi pasar di 180k saja. Akan tetapi, Dolar AS justru melemah akibat risiko krisis perbankan. Alhasil, harga minyak menguat lebih dari 1 persen pada sesi akhir pekan lalu.

Fokus pasar saat ini bergeser pada rilis data perdagangan China pada hari Selasa dan inflasi konsumen AS yang akan dipublikasikan pada hari Rabu. Hasil data yang lebih kuat dari ekspektasi akan menjadi sinyal positif bagi prospek permintaan minyak global, mengingat peran kedua negara tersebut sebagai konsumen minyak terbesar di dunia.

Ekonom memperkirakan data impor China akan melemah lebih lanjut, begitu pula dengan tingkat ekspor yang diprediksi melambat dari 14.8% menjadi 8.4%. Sementara itu, inflasi AS diekspektasikan naik dari 0.1% ke 0.4% dalam basis bulanan. Laju inflasi juga penting diperhatikan mengingat perannya dalam menentukan prospek suku bunga The Fed ke depan. Dalam pengumuman kebijakan terbarunya, Jerome Powell sudah menegaskan akan memantau data ekonomi (inflasi dan ketenagakerjaan) untuk memutuskan arah kebijakan moneter.

Harga minyak berpotensi melemah lebih lanjut apabila publikasi data ekonomi AS dan China pekan ini mengkonfirmasi terjadinya perlambatan ekonomi. Tetapi, penurunan harga mungkin akan diredam oleh pemotongan output minyak OPEC. Pasalnya, organisasi tersebut telah mengumumkan akan memangkas produksi minyak sebesar 1.6 juta barel per hari (bph) mulai bulan Mei. Hal ini tentu saja berpotensi menurunkan suplai minyak di pasar global.

Download Seputarforex App

299363
Penulis

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.