OctaFx

iklan

Skor PMI Inggris Jeblok Gegara COVID-19, Poundsterling Rontok

Skor PMI Inggris ambruk ke rekor terendah sejak awal pencatatan data pada tahun 1998. Akibatnya, nilai tukar pound ikut tumbang.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Nilai tukar Pound merosot sekitar 1 persen ke kisaran 1.2260-an versus Dolar AS dalam tempo kurang dari satu jam setelah rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) sore ini (3/April). Poundsterling juga ambruk lebih dari 0.5 persen terhadap Yen Jepang dan Euro. Pemerintah Inggris telah mengumumkan stimulus tambahan untuk menopang perusahaan-perusahaan yang terdampak pandemi COVID-19, tetapi skor PMI Inggris ambruk ke rekor terendah sejak awal pencatatan data pada tahun 1998.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

CIPS dan IHS Markit melaporkan skor PMI untuk sektor jasa Inggris amblas dari 53.2 menjadi 34.5 dalam hasil survei bulan Maret lalu. Padahal, pelaku pasar hanya mengantisipasi penurunan hingga 34.8. Skor PMI Komposit pun runtuh dari 53.0 menjadi 36.0 saja.

Sektor jasa merupakan bagian ekonomi Inggris yang terdampak paling buruk di tengah pandemi COVID-19. Berbagai bidang usaha mulai dari perbankan, industri kreatif, hingga hospitality terpaksa menghentikan operasional sehubungan dengan diberlakukannya lockdown nasional selama tiga pekan mulai minggu lalu. Akibatnya, pemutusan hubungan kerja marak. Tingkat pengangguran melejit dengan laju terpesat sejak krisis finansial 2009.

Menurut IHS Markit, "PMI Output Komposit Inggris jatuh ke 36.0 pada bulan Maret, dipandu oleh kelesuan dalam aktivitas jasa karena toko-toko ditutup untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Angka PMI terbaru konsisten dengan kejatuhan lebih dari 1.5% (QoQ) dalam GDP."

Duncan Brock dari CIPS juga menyatakan, "Sektor jasa disedot masuk ke lubang hitam dan dilempar ke antah berantah oleh dampak dahsyat virus Corona COVID-19. Satu hal yang pasti, dengan optimisme bisnis terendah dalam lebih dari 20 tahun, outlook jangka pendek untuk sektor jasa lebih dari sekedar suram."

Pemerintah Inggris terus meningkatkan anggaran stimulus fiskal dan ragam bantuan yang diberikan untuk perekonomian, mulai dari pinjaman berbunga lunak, pelonggaran pajak, subsidi gaji karyawan, dan lain-lain. Peraturan terkait pailit juga telah direlaksasi. Namun, situasi terus memburuk. Hampir satu juta orang sudah mengajukan klaim pengangguran dalam dua pekan terakhir. Federation of Small Businesses dan Corporate Finance Network pekan ini memeringatkan bahwa jutaan perusahaan bisa kolaps dalam hitungan beberapa minggu ke depan tanpa adanya suntikan dana segar.

292535

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.