Advertisement

iklan

Stok AS Melimpah, Harga Minyak WTI Terpuruk Di Level 20 Dolar

Harga minyak mentah acuan telah merosot nyaris 70 persen dalam sebulan terakhir, dan kini berkubang di kisaran terendah sejak tahun 2002.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak mentah dunia semakin tertekan menyusul dipublikasikannya serangkaian laporan yang mengecewakan pada sesi New York. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa (1/April), WTI terpuruk di kisaran 20 Dolar AS per barel, sementara Brent terguling nyaris 3 persen ke kisaran 23 Dolar AS per barel. Kedua harga acuan minyak dunia tersebut telah mencetak kemerosotan nyaris 70% sepanjang bulan Maret 2020, dan kini berkubang di kisaran terendah sejak tahun 2002.

WTICOUSD Daily

Pada hari Selasa malam, American Petroleum Institute (API) melaporkan kenaikan inventori minyak mentah AS sebanyak 10.5 juta barel dalam periode sepekan lalu. Pertambahan tersebut jauh melampaui estimasi awal yang hanya sebesar 4 juta. Sementara itu, negara-negara anggota OPEC gagal mencapai kesepakatan untuk mendiskusikan kuota produksi pada bulan April.

"Sentimen pasar tetap suram karena tak ada kejelasan tentang berapa lama pandemik akan berlanjut," kata Hiroyuki Kikukawa dari Nissan Securities, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Pandemi virus Corona (COVID-19) telah mendorong banyak maskapai terkemuka untuk memarkir armada mereka sementara waktu, sehingga permintaan bahan bakar dari sektor ini merosot drastis. Permintaan BBM untuk transportasi darat juga berkurang signifikan, karena banyak negara memberlakukan karantina wilayah total maupun parsial, melarang perjalanan ke luar wilayah, dan membatasi aktivitas sosial masyarakat.

Nuansa pasar semakin kelam karena konflik dalam tubuh OPEC+. Perang harga antara Arab Saudi dan Rusia masih terus berlanjut. Seorang narasumber juga memberitahu Reuters bahwa Presiden AS Donald Trump telah mengesampingkan rencana untuk mendesak Arab Saudi mengendalikan harga minyak.

"Sangat tidak mungkin bagi OPEC, dengan ataupun tanpa Rusia atau Amerika Serikat, akan menyetujui sebuah solusi volumetrik yang memadai untuk mengimbangi penurunan permintaan minyak," papar Harry Tchilinguirian, seorang analis dari BNP Paribas, dalam catatan yang diedarkan pada hari Selasa.

292508

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.