iklan

Sudahkah Brexit Mempengaruhi Ekonomi Inggris?

Sebulan setelah referendum Brexit menyatakan bahwa lebih dari sebagian masyarakat ingin keluar dari Uni Eropa, apakah ekonomi Inggris masih prima, ataukah sudah mulai terpukul?

iklan

iklan

Data GDP Inggris kuartal dua tahun 2016 yang dirilis kemarin menunjukkan peningkatan jauh melampaui estimasi. Dengan laju GDP 0.6% QoQ melampaui ekspektasi 0.4%, jelas bahwa Inggris menggelar referendum Brexit dalam kondisi ekonomi terakselerasi. Tetapi, kini, sebulan setelah referendum menyatakan bahwa lebih dari sebagian masyarakat ingin keluar dari Uni Eropa, apakah ekonomi Inggris masih prima, ataukah sudah mulai terpukul?

Menjelang rapat BoE pekan depan, ada baiknya mengevaluasi kembali beberapa laporan ekonomi Inggris terbaru.

Ekonomi Inggris

 

1. Sektor Manufaktur Dan Jasa

Sepaket laporan hasil survei bisnis yang digelar Markit/CIPS pekan lalu mengindikasikan bahwa sektor jasa dan manufaktur Inggris mengalami penurunan paling cepat sejak tahun 2009, akibat shock yang ditimbulkan oleh hasil referendum tanggal 23 Juni. PMI Manufaktur ambruk ke 49.1 dari sebelumnya 52.1, sedangkan PMI jasa terpuruk ke 47.4 dari sebelumnya 52.3. Jelas bahwa sentimen para pelaku bisnis di negeri yang beribukota di London itu sangat terpukul hebat.

Sentimen pelaku bisnis tersebut pada gilirannya akan direfleksikan pada keputusan-keputusan bisnis yang secara agregat berpotensi berimbas pada ekonomi Inggris, khususnya di sektor ketenagakerjaan.

 

2. Sentimen Konsumen

Di lain pihak, indeks keyakinan konsumen bulan Juli menurut hasil survey YouGov dan Centre for Economics and Business Research (CEBR) "nyemplung" ke level terendahnya dalam tiga tahun di 106.6. Masyarakat terutama khawatir tentang apa yang akan terjadi pada nilai properti mereka setelah peminat berkurang akibat meningkatnya kesulitan bagi orang-orang yang ingin pindah dari Eropa daratan ke Inggris.

"Jika kekhawatiran para pemilik akan harga-harga properti mereka menjadi kenyataan, maka bisa ada dampak yang sangat serius bagi sektor perumahan maupun perekonomian secara umum," demikian ungkap direktur CEBR, Scott Corfe.

Para ekonom awalnya berharap pengeluaran konsumen bisa memberikan jalan bagi Inggris untuk menghindari resesi. Namun, penjualan ritel ternyata jatuh tak kalah tajamnya setelah referendum, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil survei CBI Distributive Trades Survey kemarin. Tercatat indeks hasil survei atas aktivitas penjualan di 150 perusahaan ritel dan grosir Inggris itu mengalami -14, jauh lebih rendah dari ekspektasi 1 maupun angka indeks sebelumnya 4.

 

3. Sektor Konstruksi

Di sektor konstruksi, aktivitas pun terpantau melambat pasca Brexit. Survei yang digelar oleh Royal Institution of Chartered Surveyor (RICS) memprediksikan pertumbuhan aktivitas konstruksi hanya akan mencapai 1% dalam 12 bulan mendatang, turun dari perkiraan sebelumnya 2.8%.

Sementara itu, pasar properti merupakan sektor yang terpukul paling parah sejak referendum Brexit 23 Juni. Selain jeleknya proyeksi pendapatan ke depan, saham-saham di sektor ini anjlok dan beberapa reksadana terkait terpaksa disuspensi karena ramainya aksi jual.

 

4. Ketenagakerjaan

Konsekuensi nomor satu dari buruknya sentimen di ketiga sektor di atas adalah perusahaan-perusahaan memangkas rencana rekrutmen tenaga kerja mereka. Hingga saat ini, setidaknya perusahaan-perusahaan konstruksi dan ritel telah mengindikasikan akan bertindak demikian.

Bukan hanya rekrutmen baru yang terimbas, gaji untuk karyawan pun terancam macet. Sebuah survei dari perusahaan sumber daya manusia XperHR dan diulas Reuters hari Kamis menunjukkan bahwa median gaji dalam kuartal II/2016 hanya naik 1.8%, padahal selama dua tahun telah berada pada 2% atau lebih.

Sheila Attwood dari XperHR mengatakan, "Masih perlu dilihat lagi bagaimana ketidakpastian seputar dampak pilihan Brexit akan berimbas pada besaran gaji, tetapi kita kemungkinan akan melihat pembayaran gaji tetap rendah untuk berbulan-bulan mendatang."

 

Kesimpulan

Dari laporan-laporan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil referendum Brexit saat ini terutama berimbas pada sentimen pelaku bisnis, baik dari sisi produsen maupun konsumen. Dengan buruknya ekspektasi pelaku pasar maka diproyeksikan jalannya perekonomian ke depan akan seret, tetapi sesungguhnya efek Brexit secara aktual pada ekonomi Inggris belum terlihat.

Dengan simpulan demikian, maka belum jelas juga apakah komite kebijakan Bank of England pekan depan akan menganggap perekonomian sudah membutuhkan "penyangga" atau belum. Biarpun para analis luas mengekspektasikan BoE untuk memangkas suku bunga di rapat tanggal 4 Agustus mendatang, tetapi para pemangku jabatan masih menolak berkomitment.

Sang Gubernur Mark "untrusted boyfriend" Carney memang telah menyatakan kesiapannya untuk memangkas suku bunga atau menjalankan kebijakan lain guna menanggulangi perlambatan ekonomi, tetapi secara aktual saat ini perlambatan belum terjadi (atau setidaknya, bukti akan terjadinya perlambatan belum muncul). Martin Weale, salah satu anggota hawkish di MPC BoE, dalam salah satu wawancara akhir pekan lalu mengatakan bahwa perekonomian lebih buruk dari dugaannya, tetapi ia pun tetap menolak menjawab pertanyaan tentang kapan menurutnya (jika dibutuhkan) stimulus akan mulai dilancarkan.

269255

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


1 Apr 2021

19 Apr 2021

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone