Survei PMI Manufaktur China Dan Jepang Bulan Agustus Sinyalkan Pelemahan Ekonomi

Pertumbuhan dalam sektor manufaktur di China mengalami perlambatan di level rendah tiga bulan pada bulan Agustus ini. Output dan pesanan baru manufaktur China yang dilaporkan termoderasi pada Kamis (21/08) ini kian membebani ekonomi negeri Tirai Bambu.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pertumbuhan dalam sektor manufaktur di China mengalami perlambatan di level rendah tiga bulan pada bulan Agustus ini. Output dan pesanan baru manufaktur China yang dilaporkan termoderasi pada Kamis (21/08) ini kian membebani ekonomi negeri Tirai Bambu.

jepang_china_2
Indeks PMI Manufaktur HSBC China melorot dari 51.7 pada bulan Juli, menjadi 50.3 pada bulan ini. Angka itu merupakan yang terendah sejak bulan Mei. Meski demikian, level di atas 50 masih berarti ekspansi.

Angka tersebut muncul dikarenakan oleh pertumbuhan ekonomi China yang memang kembali tertatih-tatih. Indikator-indikator yang dirilis belakangan ini, mulai dari pinjaman hingga output dan investasi, semuanya menuju ke sinyal pelemahan.

Kondisi yang nampak makin tak stabil seperti ini membuat para analis beranggapan bahwa tambahan stimulus mungkin akan dibutuhkan oleh China dalam beberapa bulan ke depan. Tujuannya, tentu saja untuk menopang pertumbuhan dan mengimbangi penurunan yang terjadi akibat mendinginnya pasar perumahan.

"Drastisnya penurunan PMI China mungkin tak begitu mengejutkan, mengingat data pinjaman dan aktovitas manufaktur pada bulan lalu memang mengecewakan," kata Julian Evans-Pritchard, ekonom dari Capital Economic dalam catatannya kepada Reuters.

Meski PMI Manufakturnya Cerah, Jepang Masih Rentan

Keadaan yang dialami oleh China tersebut sebetulnya tak jauh berbeda dengan Jepang. Survei serupa yang dilakukan di Jepang menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur terakselerasi pada bulan Agustus seiring dengan meningkatnya ekspor dan permintaan domestik.

Indeks PMI Jepang musiman melompat ke 52.4 dari 50.5 pada bulan Juli, yang sekaligus menjadi perolehan tertinggi sejak bulan Maret.

Namun, Reuters melaporkan, polling Tankan mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi Jepang akan melaju dalam tingkat yang tak terlalu cepat. Oleh karena itu, bank sentral Jepang akan terus mendapat tekanan untuk mengambil tindakan demi melanjutkan pertumbuhan negara ekonomi terbesar ketiga di dunia itu.

Pertumbuhan ekonomi Jepang tahunan mencatat minus 6.8 persen pada kuartal kedua 2014, penyusutan terbesar yang terjadi sejak bencana gempa bumi 2011.

Pada intinya, aktivitas manufaktur China dan Jepang memang cenderung pasang surut dan moderat. Ketidakstabilan tersebut sama-sama dianggap merujuk pada kebutuhan akan tambahan stimulus demi menyeimbangkan perekonomian serta menopang pertumbuhan ekonomi masing-masing negara.

194863

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.


24 Sep 2019