Advertisement

iklan

The Fed Pantau Data, Dolar AS Terpukul Pasca Pengumuman Suku Bunga

Penulis

+ -

Pernyataan Jerome Powell mengisyaratkan kenaikan suku bunga The Fed lanjutan dengan laju yang lambat dalam bulan-bulan mendatang.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) sempat menguat seusai rapat FOMC pada hari Rabu (27/Juli), tetapi kemudian langsung tersungkur sekitar 0.7 persen ke kisaran terendah 106.20-an. Rapat FOMC memutuskan kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 75 basis poin lagi, sesuai dengan ekspektasi pasar. Kendati demikian, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan "rate hike" lanjutan dengan laju yang lambat dalam bulan-bulan mendatang.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Dengan pengumuman kebijakan kali ini, suku bunga The Fed telah resmi kembali ke rentang 2.25%-2.50%. FOMC menegaskan pentingnya kenaikan suku bunga dalam upaya mengendalikan laju inflasi AS. Di saat yang sama, mereka mencatat pula bahwa beragam indikator ekonomi AS mulai melemah meskipun pasar tenaga kerja masih kuat.

Powell tetap menampilkan sikap gigih melawan inflasi dalam konferensi persnya. Ia meyakini AS tidak sedang mengalami resesi, dan The Fed akan terus berusaha untuk "mendinginkan" perekonomian tanpa mengakibatkan resesi. Namun, ia tidak memberikan petunjuk jelas mengenai kebijakan The Fed berikutnya. Powell hanya menekankan adanya "cukup banyak data" yang perlu ditelaah untuk pengambilan keputusan berikutnya, termasuk data inflasi Juli dan Agustus.

Berdasarkan pernyataan FOMC dan Powell, pelaku pasar menilai The Fed masih akan menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat. Tapi skala kenaikan suku bunga itu kemungkinan tak sebesar ekspektasi pasar sebelumnya.

"Dari sini, ada kemungkinan bahwa The Fed memperlambat langkah pengetatannya, diyakinkan oleh kemungkinan telah berlalunya puncak inflasi dan mundurnya ekspektasi inflasi karena harga minyak telah jatuh," kata Seema Shah, kepala strategi global di Principal Global Investors, dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters, "Namun dengan pasar tenaga kerja masih tangguh, pertumbuhan upah masih sangat tinggi, dan inflasi inti tampaknya akan menurun dengan kecepatan yang sangat lambat; The Fed tentu saja tidak dapat menghentikan pengetatan (kebijakan moneter), juga tidak dapat terlalu drastis pindah persneling."

"Harapan untuk laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat telah meningkatkan ekspektasi untuk suku bunga tambahan yang lebih sedikit, yield obligasi yang lebih rendah, selisih kredit yang lebih ketat, serta harga saham yang lebih tinggi," kata George Bory, kepala strategi investasi untuk pendapatan tetap di Allspring Global Investments, "Terlepas dari (reaksi) kenaikan awal dalam aset-aset berisiko, banyak hal masih tergantung pada inflasi dan kemampuan The Fed untuk mengembalikan inflasi ke target 2%."

Fedwatch Tool dari CME kini menunjukkan probabilitas sebesar 60.9% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 50 basis poin pada bulan September mendatang, atau meningkat dari probabilitas 50.7% yang tercatat pada hari Selasa. Sementara itu, probabilitas untuk kenaikan suku bunga sebanyak 75 basis poin justru menurun dari 41.2% menjadi 35.2%.

Situasi ini mengakibatkan pelemahan dolar AS seusai pengumuman hasil rapat FOMC. Tapi posisi greenback secara umum masih tertopang oleh tingginya minat risk-off di pasar global. Isu krisis gas Eropa kembali mencuat lantaran Rusia memangkas pasokan gas via jalur pipa Nord Stream 1 sebagai langkah balasan atas bantuan Uni Eropa ke Ukraina. Iklim geopolitik di Asia Timur juga kian memanas seiring dengan beredarnya rencana kunjungan Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

Download Seputarforex App

298006
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.