Trump Tuduh Jerman Dan Jepang Mainkan Mata Uang, Dolar Merana

Dolar AS mengalami performa terburuk untuk bulan Januari dalam tiga dekade, setelah Donald Trump mengeluhkan bahwa negara-negara maju saat ini sibuk melakukan devaluasi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS masih bearish di sesi perdagangan Asia, Rabu (01/Feb) pagi ini, setelah pemerintahan Trump menuduh Jerman dan Jepang mendevaluasi mata uang mereka untuk meningkatkan daya saingnya dari sektor perdagangan. Para investor menanggapi hal ini dengan makin meninggalkan aset-aset berisiko, yang memerahkan saham-saham dan menguntungkan obligasi.

donald-j-trump

Dolar AS mengalami performa terburuk untuk bulan Januari dalam tiga dekade, setelah Presiden Donald Trump mengeluhkan bahwa hampir semua negara (maju) saat ini selalu melakukan devaluasi. Pernyataan ini muncul setelah beberapa jam sebelumnya, penasihat utama Trump, Peter Navarro, mengatakan bahwa Jerman memanfaatkan Euro yang sedang undervalued untuk mengeksploitasi partner-partner perdagangan mereka. Selain itu, permohonan kontrak perdagangan antara AS dan Eropa juga dikatakan sudah mati.

"Dugaan bahwa Washington mungkin akan meningkatkan fokus mereka pada nilai Dolar makin kentara," kata analis bank ANZ dalam catatannya yang dikutip oleh Reuters. "Implikasi awal untuk kebijakan ini adalah, daya saing Dolar akan memegang peran penting dalam mewujudkan program 'America First'," lanjutnya.


Rival-Rival Dolar Melambung

Oleh sebab itulah, USD/JPY sempat terjerumus ke level 112.70 yen di awal pembukaan sesi Asia hari ini. Namun, saat berita ini ditulis, pair tersebut merangkak naik ke angka 113.0.17. EUR/USD mantap di kisaran 1.0800, setelah mencapai level high 1.0812, kian menjauh dari low 1.0617 yang tercapai di hari Senin kemarin. Saat berita ini ditulis, EUR/USD dipedagangkan di angka 1.0797.

Di samping itu, para investor menjaga jarak dari Dolar AS karena Travel-Ban kontroversial yang diberlakukan oleh Trump akhir pekan lalu. Kebijakan tersebut memicu protes dari berbagai kalangan, termasuk dari Jaksa Agung, Sally Yates. Trump kemudian memecat Jaksa Agung tersebut karena menolak mempertahankan kebijakan Travel-Ban dari Trump.

Sterling pun masih lebih kuat daripada Dolar AS, dengan GBP/USD diperdagangkan di angka 1.2575 saat berita ini ditulis. Pada Kamis mendatang, BoE dijadwalkan akan menggelar rapat dimana bank sentral tersebut diperkirakan akan menaikkan outlook inflasi dan pertumbuhan Inggris.

277450

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.