Advertisement

iklan

USD/JPY Menguat Berkat Kebutuhan Dolar Musiman

Kebutuhan investor Jepang terhadap Dolar AS diperkirakan menopang nilai tukar USD/JPY saat ini. Namun, resesi mengancam outlook dalam jangka waktu lebih panjang.

Advertisement

iklan

Xm

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS berhasil mempertahankan penguatan sekitar 0.5 persen di kisaran 108.32 terhadap Yen Jepang pada awal sesi Eropa hari ini (31/Maret). Indeks Dolar AS (DXY) juga sukses mendaki ke kisaran 99.50-an. Akan tetapi, penguatan Greenback disinyalir hanya karena peningkatan kebutuhan Dolar AS menjelang akhir tahun fiskal Jepang. Analis mengingatkan bahwa kekhawatiran mengenai resesi gegara epidemi virus Corona (COVID-19) masih sangat besar.

USDJPY DailyGrafik USD/JPY Daily via Tradingview.com

Hari Selasa ini merupakan data terakhir bagi tahun fiskal Jepang dan musim tutup buku kuartalan untuk investor di sejumlah negara lain. Oleh karena itu, perubahan harga besar kemungkinan dipengaruhi aktivitas window dressing atau sejenisnya.

"Katanya orang-orang Jepang kekurangan dolar, sehingga kemungkinan menjaga bid dolar hingga jam perdagangan London," kata Yukio Ishizuki, seorang pakar strategi forex di Daiwa Securities Tokyo, kepada Reuters. "(Tapi) kita harus melihat lebih jauh dan berfokus pada apa yang terjadi dalam perekonomian China. Meskipun ada sejumlah data lumayan bagus dari China, saya tidak bisa optimistis, karena aktivitas ekonomi di berbagai negara mengalami kemacetan."

Laporan PMI Manufaktur China tadi pagi menunjukkan rebound tajam dari 29.6 menjadi 52.3 untuk bulan Maret 2020. Hal itu menandai pemulihan aktivitas bisnis dan pabrikan setelah sempat dibekukan selama masa lockdown sejak akhir Januari hingga pertengahan bulan ini. Pelaku pasar menyambut hangat laporan tersebut, tetapi para analis mengingatkan bahwa berbagai negara menghadapi ancaman resesi akibat epidemi COVID-19, tak terkecuali Amerika Serikat.

Nariman Behravesh, seorang ekonom dari IHS Markit, menilai perekonomian AS akan lambat pulih dari kelesuan ekonomi akibat epidemi saat ini. Selain karena perekonomian riil lumpuh, pasar keuangan juga ambruk. Akibatnya, nilai aset jauh lebih rendah dan tingkat utang masyarakat meninggi. Ia memperkirakan laju GDP Amerika Serikat pra-COVID-19 kemungkinan baru akan dicapai kembali dalam 2-3 tahun ke depan.

292497

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.