Advertisement

iklan

Wall Street Resah, Harga Minyak Merosot Beruntun

Gejolak pasar modal global yang kembali dipacu oleh pengumuman kontroversial Presiden Trump turut menekan harga minyak.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak mencatat penurunan tiga hari beruntun pada hari Kamis kemarin, dan merosot lagi ke level terendah dua pekan pada perdagangan sesi Asia hari Jumat ini (2/Maret). Kenaikan inventori minyak AS yang terjadi serempak dengan laporan lonjakan produksi AS, menekan harga. Di sisi lain, gejolak pasar modal global yang kembali dipacu oleh pengumuman Presiden Donald Trump mengenai bea impor logam, turut mengurangi minat investor pada aset-aset investasi berisiko tinggi.

Harga Minyak Merosot

 

Permintaan BBM Belum Menguat

Pada hari Rabu malam, US Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa inventori minyak AS mengalami kenaikan sebesar lebih dari 3 juta barel dalam periode sepekan sebelumnya, padahal estimasi awal hanya memperkirakan kenaikan 2.40 juta barel saja. Persediaan gasolin juga meningkat sebanyak 2.48 juta barel; berlawanan dengan tren musiman, karena biasanya inventori bahan bakar tak bertambah selama masa maintenance di pabrik-pabrik pengilangan.

"Utilitas pengilangan masih rendah, jadi semestinya kita melihat persediaan lebih rendah. Akan tetapi, (masalahnya) belum ada permintaan (bahan bakar) yang kuat," ujar Ehsan Ul-Haq, direktur produk minyak mentah dan produk hasil pengilangan di Resource Economist Ltd, sebagaimana dikutip oleh MarketWatch. Padahal, ia menambahkan, impor gasolin juga rendah.

Permintaan gasolin di AS biasanya baru mulai meningkat menjelang liburan musim panas yang dimulai sekitar 28 Mei.

 

Estimasi Produksi AS Meroket

Selain peningkatan inventori AS, harga minyak juga ditekan oleh laporan EIA lainnya. Menurut EIA, peningkatan produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tinggi baru pada level 10.283 juta barel per hari.

"Kekhawatiran sedang meningkat mengenai melonjaknya produksi minyak AS, kalau-kalau ini dapat menyebabkan pasar global bergeser dari dinamika yang agak seimbang menjadi surplus," kata Tyler Richey, salah satu penulis review pasar terkemuka, Sevens Report, "Sejauh ini dalam tahun 2018, output minyak AS dalam laju menuju peningkatan 3 juta barel per hari (bph). Itu lebih tinggi dibanding ekspektasi EIA (sebelumnya) akan kenaikan 1 juta bph per akhir 2018."

Sebelumnya, dengan estimasi total produksi AS melesat hingga melampaui 11 juta bph di akhir tahun 2018, EIA memperkirakan negeri Paman Sam akan menggantikan Rusia menjadi produsen minyak terbesar dunia. Kondisi tersebut menumpulkan dampak kesepakatan pemangkasan output yang dilaksanakan oleh Rusia, Arab Saudi, dan sejumlah produsen minyak lainnya sejak awal 2017.

Terdapat pula kekhawatiran kalau peningkatan pangsa pasar AS akan mendorong negara-negara tersebut untuk mengakhiri perjanjian pemangkasan output lebih cepat, atau melakukan tindakan lain yang menghambat kenaikan harga minyak. Baru tadi pagi, Reuters melaporkan bahwa Arab Saudi kemungkinan akan memangkas harga minyak semua grade untuk ekspor ke Asia pada bulan April. Pemangkasan harga hingga 70 sen, diperkirakan terjadi karena permintaan atas minyak mentah Saudi merosot, sementara pangsa pasar minyak AS justru berkembang.

 

Terimbas Kondisi Pasar Modal

Sementara itu, Presiden Donald Trump menyampaikan pengumuman kontroversial mengenai bea impor atas besi dan aluminium pada hari Kamis. Pengumuman itu memicu kekhawatiran pelaku pasar mengenai kemungkinan akan menggeloranya perang dagang, khususnya antara AS versus dua partner dagang dekatnya, China dan Kanada. Akibatnya, Wall Street melakukan aksi jual atas saham dan aset-aset yang dianggap berisiko tinggi, termasuk kontrak berjangka minyak mentah.

Saat berita ditulis menjelang akhir perdagangan sesi Asia hari Jumat, harga Minyak masih tertekan. Harga Brent telah minus 0.47% ke 63.88, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) longsor 0.59% ke 60.96.

282640

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.