Advertisement

iklan

World Economic Forum: Eropa Telah Terentas Dari Resesi? Tunggu Dulu!

Pulihnya Eropa masih abu-abu, antara ya dan tidak. Mengapa? Karena pulihnya perekonomian negara-negara di benua tersebut, terutama yang tergabung dalam Uni Eropa, masih terbilang relatif. Tak sedikit yang menganggap bahwa resesi Eropa telah berakhir dan Eropa siap untuk membumbung kembali. Benarkah demikian?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pulihnya Eropa masih abu-abu, antara ya dan tidak. Mengapa? Karena pulihnya perekonomian negara-negara di benua tersebut, terutama yang tergabung dalam Uni Eropa, masih terbilang relatif karena tergantung dari siapa yang memberikan pernyataan dan dari sudut pandang mana masyarkat menilainya. Tak sedikit yang menganggap bahwa resesi Eropa telah berakhir dan Eropa siap untuk membumbung kembali. Benarkah demikian?

Dalam sebuah forum diskusi panel, World Economic Forum, yang digelar di Davos-Swiss pada tanggal 22 Januari kemarin, CEO WPP Group sekaligus pengusaha Inggris, Sir Martin Sorrell, menyatakan bahwa saat ini, Eropa terbagi menjadi dua. Ada Eropa Barat dan ada Eropa Timur. Sorrell pribadi merasakan bahwa bullish terjadi pada Eropa bagian timur. Wilayah-wilayah tersebut kemungkinan akan meliputi Jerman, Polandia, dan Rusia, tiga negara yang telah jelas terentas dari krisis keuangan global.

eropa_dan_resesi
Nada yang serupa diungkapkan oleh Axel Weber, ekonom dari Deutsche Bundesbank. Weber mengatakan bahwa setiap orang mengekspektasikan bahwa zona Euro telah tumbuh. Setelah terbenam dalam lautan krisis selama beberapa tahun, tentu wajar jika mereka harus optimis untuk melakukan improvisasi. Sayangnya, improvisasi tersebut jelas sekali hanya terjadi pada satu sisi saja.

Salah satu hal yang sedikit menyulitkan Eropa adalah perkembangan sektor energi yang telah dilaksanakan di negara-negara pinggiran Amerika Serikat. Dikatakan agak menyulitkan karena menurut Giuseppe Reggi, Kepala Eni SpA, salah satu perusahaan rakasa di Italia, serpihan revolusi dalam sektor gas benar-benar mengubah keuntungan kompetitif Eropa dibandingkan dengan Amerika Serikat. Artinya, Eropa harus berupaya lebih keras untuk dapat menyaingi negara-negara tersebut.

Menanggapi hal terebut, Kenneth Rogoff, pengamat ekonomi dari Harvard, memberikan secercah harapan. Rogoff menyatakan bahwa bahwa Univeritas Harvard akan terus melakukan pengembangan teknologi untuk menolong Eropa dalam menghadapi persaingan tersbut. Meskipun sulit untuk mengalahkan, setidaknya dapat menjadikan sektor gas Eropa lebih kompetitif. Rogoff juga menambahkan bahwa masalah resesi memang telah berakhir namun masalah finansial baru telah datang, yaitu masalah utang dan rasio Pendapatan Domestik Bruto. Masalah utang-utang publik dan swasta di wilayah tepian Eropa adalah masalah yang harus ditangani secara lebih agresif.

155047

SFN merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk mengulas berita-berita terkini di bidang forex maupun saham.