Advertisement

iklan

WTI Tumbang Meski OPEC Plus Sepakat Pangkas Produksi

Saat berita ditulis, harga minyak WTI telah amblas lebih dari 11 persen ke kisaran USD23 per barel. Pasalnya, kesepakatan OPEC Plus meleset dari ekspektasi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak mentah jeblok dalam perdagangan hari ini (10/April), meskipun sebagian besar bursa tutup dalam rangka perayaan Jumat Agung. Saat berita ditulis, WTI telah amblas lebih dari 11 persen ke kisaran USD23 per barel. Brent melemah lebih moderat, nyaris flat di kisaran USD30 per barel. Pemicunya adalah keputusan pemangkasan produksi OPEC+ yang meleset dari ekspektasi.

WTICOUSD Daily

Dalam rapat virtual yang dilaksanakan kemarin malam, negara-negara OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi sebesar total 10 juta barel per hari mulai bulan Juni mendatang. Dua pentolannya siap menanggung porsi terbesar; Arab Saudi bersedia memangkas 3.3 juta bph dan Rusia memangkas 2 juta bph.

Harga minyak mentah tipe WTI awalnya melonjak dari kisaran USD25 ke USD28 per barel menanggapi laporan bahwa OPEC+ berhasil mencapai kesepakatan. Akan tetapi, posisinya langsung terbanting lagi ke bawah level USD23 per barel setelah laporan hasil rapat selengkapnya mengemuka. Menurut Reuters, simpang siur ini terjadi akibat pelaporan media massa yang kacau karena rapat virtual tidak disertai dengan komunikasi pers langsung seperti biasa.

Selain itu, perusahaan BUMN migas Meksiko, Pemex, belakangan menyatakan penolakan terhadap alokasi kuota produksi yang akan dibebankan padanya. Pemex bersikeras untuk terus menggenjot produksi dan menggandakan jumlah sumur pengeborannya menjadi 423.

"Ada begitu banyak versi (laporan) berbeda dari rapat hari ini, sehingga tidak mengejutkan jika kita kembali ke negatif setelah melonjak 12 persen sebelumnya," kata Tariq Zahir dari Tyche Capital Advisors.

Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa Arab Saudi dan Rusia akan bersedia memangkas antara 10 juta hingga 15 juta bph. Dengan demikian, realisasi production cut kali ini lebih rendah dari ekspektasi sebagian pelaku pasar.

Analis juga mencatat bahwa nominal 10 juta bph hanya mencakup sepertiga dari permintaan yang hilang gegara dampak pandemi COVID-19. Estimasi total permintaan yang hilang akibat pandemi sejauh ini telah mencapai antara 20-30 juta bph.

292593

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.