Advertisement

iklan

Yen Meroket, Tapering Sembunyi-Sembunyi BoJ Jadi Fokus Pasar

Spekulasi mengenai kemungkinan bank sentral Jepang mereduksi stimulus moneternya, merebak setelah mereka mengurangi pembelian obligasi pada hari Selasa.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Spekulasi mengenai kemungkinan bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mereduksi stimulus moneternya, merebak setelah mereka mengurangi pembelian obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) pada hari Selasa. Kabar tersebut memicu aksi jual obligasi di Jepang serta memperkuat aksi jual obligasi di AS, sehingga yield obligasi terus meroket dan menunjang penguatan mata uang Yen dan Dolar AS yang berlanjut hingga sesi Asia hari Rabu ini (10/Januari).

Saat berita ditulis, USD/JPY diperdagangkan -0.32% ke 112.27, setelah longsor hingga mencetak low di 112.36 kemarin. Pasangan EUR/JPY juga melanjutkan penurunan sebesar 0.26% hingga 134.11, dan GBP/JPY melorot 0.35% ke 151.96.

 

Bank of Japan

 

"Stealth Tapering"

Pada tahun 2016, BoJ menentukan suku bunga jangka pendek pada -0.1% dan yield obligasi 10-tahunan sekitar 0 persen, serta berjanji untuk meningkatkan pembelian obligasi sekitar 80 triliun Yen per tahun. Namun, peningkatan yang sesungguhnya hanya sekitar 58 triliun pada tahun 2017 lalu.

Kemudian BoJ menggemparkan pasar dengan memangkas besaran pembelian JGB pada hari Selasa kemarin. Pembelian Obligasi JGB dengan tenor 10-25 tahun hanya dilakukan sebesar 190 Milyar, turun dari 200 Milyar pada periode sebelumnya. Sedangkan pembelian JGB bertenor di atas 25 tahun juga menyusut ke 80 Milyar, dari 90 Milyar pada periode sebelumnya.

Meski samar, tetapi langkah BoJ yang disebut oleh Reuters sebagai "stealth tapering" (Tapering Sembunyi-Sembunyi) ini dinilai menggarisbawahi betapa sensitifnya pasar akan kemungkinan pengurangan stimulus BoJ. Apalagi, stimulus moneter tersebut telah menjadi salah satu kebijakan utama dalam paket Abenomics yang digalakkan PM Shinzo Abe dalam empat setengah tahun terakhir.

"Hal ini menunjukkan bahwa besarnya perhatian yang diberikan pada kata 'tapering' atau aksi apapun dari BoJ ke arah (normalisasi kebijakan) itu. Ada banyak yang sensitif di sekitar topik itu," kata Bart Wakabayashi, manajer cabang di State Street Bank Tokyo.

Di sisi lain, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda telah berulang kali menepis kemungkinan penghapusan stimulus moneter dalam waktu dekat, meski sejumlah pejabat BoJ lainnya telah menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak negatifnya. Oleh karena itu, spekulasi juga muncul kalau bank sentral Jepang tersebut akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2018, dengan pertimbangan mereka akan sekaligus menjalankan pembelian obligasi dan kenaikan suku bunga secara bersamaan; sebagaimana telah dilakukan oleh sejumlah bank sentral lain di masa lalu.

Menyusul langkah BoJ memangkas besaran pembelian JGB, aksi jual bergolak di pasar obligasi Jepang. Akibatnya, yield obligasi 20-tahunan dan 40-tahunan naik ke level tertinggi satu bulan, meski masih di bawah level tertingginya tahun lalu.

 

Kebijakan Yang Inkonsisten 

Sejak mengadopsi kebijakan Yield Curve Control pada tahun 2016, BoJ telah berkali-kali memodifikasi operasi pembelian obligasinya hingga lebih dari 10 kali. Sebagaimana dilansir Reuters, pejabat BoJ mengatakan perubahan diharapkan untuk menjaga yield Obligasi selaras dengan target kebijakannya, dan bukan untuk mengirim sinyal mengenai kebijakan masa depan.

Namun, dilihat dari kondisi saat ini, ada inkonsistensi kebijakan. Karenanya meski pasar sudah bereaksi, tetapi sebagian analis memilih untuk wait-and-see, setidaknya hingga rapat kebijakan pada tanggal 23 Januari mendatang. Dalam pada itu, inflasi yang rendah masih menjadi tantangan utama bagi BoJ, meski gaji karyawan telah menunjukkan peningkatan baru-baru ini. 

Selain itu, yield dalam lelang JGB dengan maturity 10-tahun dijadwalkan akan dirilis pagi ini. Pada periode sebelumnya, yield berada pada 0.059%. Hasilnya bisa berdampak pada keputusan pelaku pasar, apakah melanjutkan aksi jual obligasi atau tidak.

281870

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.