OctaFx

iklan

BoJ Tak Ubah Kebijakan, USD/JPY Belum Keluar Dari Sideway

Keputusan Bank of Japan menghalangi penguatan Yen, tetapi pelemahannya dibatasi oleh permintaan pasar atas aset-aset Safe Haven.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Pasangan mata uang USD/JPY menanjak sekitar 0.30 persen ke kisaran 109.70 pada awal sesi Eropa (23/Januari), tetapi masih terkekang dalam perdagangan sideways dan belum mampu melampaui level tertinggi bulan ini yang tercapai pada 18 Januari lalu. Setelah bank sentral Jepang menyatakan tak mengubah suku bunga dan data ekspor dilaporkan merosot tajam, Yen terpantau melemah terbatas saja versus Euro dan Poundsterling, karena permintaan Safe Haven masih cukup tinggi.

USD JPY Daily

 

BoJ Optimis Ekonomi Jepang Tetap Berkembang

Dalam rapat dua hari yang berakhir tadi pagi, Bank of Japan (BoJ) menyatakan tak mengubah kebijakan moneternya, sesuai ekspektasi pasar. BoJ membiarkan target suku bunga jangka pendek tetap pada -0.1 persen, sembari memangkas proyeksi inflasi konsumen inti dari 1.4 persen menjadi 0.9 persen untuk tahun fiskal yang akan dimulai pada bulan April mendatang.

Selain itu, bank sentral yang dipimpin Haruhiko Kuroda tersebut juga mempertahankan ekspektasi bahwa perekonomian Jepang akan terus berekspansi dengan laju moderat. Dalam laporan outlook kuartalannya, BoJ mengungkapkan, "Perekonomian Jepang kemungkinan melanjutkan tren ekspansi hingga tahun fiskal 2020."

Berbeda dengan proyeksi IMF kemarin yang amat pesimis, BoJ masih optimis kalau kondisi perekonomian tetap bagus, meski ada beberapa risiko. Katanya, "Perekonomian luar negeri diekspektasikan terus bertumbuh dengan kokoh secara keseluruhan, walaupun berbagai perkembangan baru-baru ini perlu diperhatikan, seperti friksi perdagangan antara Amerika Serikat dan China."

 

Yen Ditopang Kebutuhan Safe Haven

Pengumuman BoJ ini dirilis beberapa saat setelah Kementrian Keuangan Jepang melaporkan bahwa ekspor bulan Desember 2018 anjlok hingga mencatat rekor terburuk sejak Oktober 2016. Penurunan tajam tersebut disinyalir karena merosotnya permintaan dari China, yang merupakan salah satu mitra dagang terbesar Jepang.

Di sisi lain, mata uang Yen justru diuntungkan oleh meningkatnya kecemasan di kalangan investor dan trader mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang buruk, serta masih jauhnya prospek damai antara AS dan China. Permintaan atas sejumlah aset Safe Haven, termasuk Yen, terpantau meningkat tipis kemarin; setelah Financial Times melaporkan bahwa pemerintah AS menolak diskusi pendahuluan menjelang kunjungan Wakil Perdana Menteri China Liu He akhir bulan ini, serta bersikeras menuntut ekstradisi CFO Huawei yang dicekal Kanada bulan lalu.

287122

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.