Advertisement

iklan

Carut Marut Akibat Swiss Lepas Patokan Euro

Sekitar jam 5 sore kemarin, Bank Sentral Swiss (SNB) secara mengejutkan melepas kebijakan kunci yang mematok Swiss Franc pada 1.2 Euro. Kebijakan itu selama ini berkontribusi dalam menopang nilai Euro karena adanya jaminan bahwa SNB pasti akan mengintervensi dengan melakukan pembelian Euro setiap kali Swissy menguat. Dengan dihentikannya patokan tersebut, berarti pasar kehilangan satu asumsi fundamental dasar. Hal ini berimbas pada berbagai instrumen.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sekitar jam 5 sore kemarin, Bank Sentral Swiss (SNB) secara mengejutkan melepas kebijakan kunci yang mematok Swiss Franc pada 1.2 per Euro. Kebijakan itu selama ini berkontribusi dalam menopang nilai Euro karena adanya jaminan bahwa SNB pasti akan mengintervensi dengan melakukan pembelian Euro setiap kali Swissy menguat. Dengan dihentikannya patokan tersebut, berarti pasar kehilangan satu asumsi fundamental dasar. Hal ini berimbas pada berbagai instrumen.

Carut Marut Akibat Swiss Lepas Patokan Euro
Swiss, walaupun berada di benua Eropa dan diapit oleh negara-negara Euro, namun ia sendiri bukan merupakan anggota Uni Eropa maupun Euro. Hal ini membuat sistem finansial di negara mungil ini unik, apalagi Swiss juga dikenal sebagai salah satu pusat keuangan dunia berkat perbankan yang stabil, handal dan teguh menjaga prinsip kerahasiaan. Dalam kondisi dimana Wilayah Euro memburuk seperti sekarang, Swiss jelas akan dipandang bak oase di padang pasir.

Normalnya, naiknya permintaan terhadap suatu mata uang seperti yang dialami Swiss akan meningkatkan nilainya hingga berkali lipat. Faktanya, di pertengahan tahun 2011 saat Zona Euro dilanda krisis, CHF meroket ke nyaris sama dengan Euro walau sebelumnya nilai tukarnya kurang dari 0.7  CHF per Euro. Volatilitas tinggi semacam itu jelas buruk bagi suatu negara, apalagi negara berlandaskan ekspor seperti Swiss. Swiss merupakan pengekspor produk berkualitas tinggi, yang dengan sendirinya harganya akan semakin melangit jika nilai tukarnya menguat. Oleh karena itu, pada tahun 2011, SNB mengumumkan bahwa mereka menetapkan patokan minimum pada nilai tukar Euro dan Franc; Euro tidak akan diijinkan melemah dibawah 1.2 CHF. SNB mempertahankan patokan itu dengan mencetak CHF secara reguler untuk membeli Euro di pasar.

Lalu, kenapa sekarang SNB melepas patokan itu? Perlu diingat bahwa level ideal indikator ekonomi itu dinamis, dan standar baik-buruknya relatif tergantung situasi.

Yang terjadi adalah, kondisi berubah setelah tiga tahun berlalu. Menurut pengumuman SNB kemarin sebagaimana dikutip oleh Bloomberg Businessweek, "Saat ini, kesenjangan antara kebijakan moneter di wilayah-wilayah mata uang mayor telah meningkat secara signifikan -sebuah tren yang kemungkinan akan semakin mencolok. Euro telah terdepresiasi terhadap Dolar AS, dan hal ini mengakibatkan Swiss Franc untuk melemah terhadap Dolar AS juga. Dalam situasi ini, SNB menyimpulkan bahwa mengimplementasikan dan mempertahankan nilai tukar minimum Swiss Franc terhadap Euro tidak lagi bisa dijustifikasi."

Manurut analis Societe Generale, Kit Juckes, bisa jadi SNB menyimpulkan bahwa terus menerus membeli Euro untuk mempertahankan patokan itu sudah tidak lagi memungkinkan, dan timbunan Euro dalam koleksi cadangan devisanya sudah sedemikian besar sehingga malah menjadi beban. Apalagi, ECB nampaknya sebentar lagi akan meluncurkan program Quantitative Easing, yang pastinya akan semakin mendepresiasi Euro dan meningkatkan beban SNB apabila mereka akan mempertahankan patokan minimum 1.2 CHF per Euro tadi.

Yang terjadi sekarang adalah, pasar kehilangan satu asumsi fundamental dasar dan masih dalam kebingungan dalam usahanya untuk mencari satu level keseimbangan. Apa yang akan terjadi setelah ini? Berikut beberapa perkiraan yang beredar di pasar:

1. Fokus Beralih ke USD/CHF

Menurut Kit Juckes, SNB bukannya menyerah, tetapi merubah taktik. Setelah kepanikan pasar mereda, mereka mungkin akan mulai intervensi lagi, tetapi bukan intervensi pada pair EUR/CHF, melainkan pada pair USD/CHF dengan tujuan mengendalikan index CHF. Ini masuk akal mengingat produk-produk mewah Swiss saat ini lebih banyak dinikmati oleh konsumen di Beijing atau Shanghai daripada oleh konsumen di Frankfurt atau Paris (Lebih banyak orang kaya baru di China daripada di Eropa). Setelah itu, SNB akan memantau apa efek dari arah kebijakan mereka yang baru, termasuk terkait dengan suku bunga minus yang baru saja mereka umumkan untuk kedua kalinya yang pastinya mempengaruhi minat investor yang ingin menyimpan dana dalam Swiss Franc. SNB, menurut Juckes, mungkin berharap bahwa EUR/CHF akan kembali bergerak ke arah 1.2 setelah shock mengantarkannya ke level rendah. Selain itu, mereka juga mungkin berharap USD/CHF bisa kembali merangkak naik diatas level 1.0 akhir tahun ini.

Carut Marut Akibat Swiss Lepas Patokan Euro

2. Pukulan Bagi Euro

Pair-pair Euro kemarin juga mengalami pukulan telak. Ini karena, aksi beli SNB dalam rangka mempertahankan level 1.2 telah lama menjadi salah satu penopang nilai tukar Euro. Setiap kali Euro melemah dan CHF menguat, pasar secara otomatis berpikir bahwa SNB akan "mem-bail out" Euro. Ketika mindset ini dihapus, semua kalkulasi fundamental jadi berantakan. Disamping itu, langkah SNB ini bisa dianggap sebagai preseden bagi peluncuran QE oleh ECB pekan depan.

Kathy Lien dari BK Asset Management menyebutkan bahwa Swiss mengambil risiko besar dengan melepas patokan mereka. Keputusan ini, menurutnya, mengiaskan bahwa SNB mengharapkan ECB untuk mengumumkan QE pekan depan, dan mereka merasa tak akan mampu mempertahankan patokan itu jika ECB melakukan QE. Ia bahkan menambahkan kalau ia takkan terkejut bila presiden SNB ternyata sudah berunding dengan presiden ECB sebelum mengeluarkan putusan mengejutkan itu.

Kepanikan berarti bahwa "jual Euro" menjadi tema utama di pasar saat ini. Prospek QE akan terus menekan Euro, namun Lien mengatakan bahwa pihaknya mengantisipasi bounce EUR/USD pada 48 jam sebelum pengumuman ECB pekan depan. Jika ECB ternyata mengecewakan (tidak mengumumkan QE) maka Euro akan reli ke minimal 1.17. Ini membuka peluang bagi trader untuk menjual Euro pada level yang lebih tinggi.

3. Safe Haven Alternatif

Dalam kondisi kacau balau seperti ini, secara natural investor mencari safe haven. Tetapi dengan sumber kekacauan berasal dari Swiss yang biasanya menjadi safe haven, dan perekonomian Jepang masih stagnan, maka investor mencari safe haven alternatif sebagai upaya hedging tambahan. Pilihan pertama jatuh pada Emas. Selain itu, investor juga kabarnya melirik mata uang komoditas Aussie dan Kiwi. Dolar Kanada tidak mengalami gain yang berarti karena harga minyak yang masih melorot, tetapi Dolar Australia dan Dolar New Zealand mencatat peningkatan minat safe haven ini karena suku bunga mereka terhitung tinggi diantara negara-negara mayor.

Carut Marut Akibat Swiss Lepas Patokan Euro
Kekacauan yang ditimbulkan putusan SNB pada banyak instrumen mengakibatkan platfor-platform trading mengalami crash. Laporan dari ForexMagnates menyebutkan bahwa banyak bank sempat gagal menampilkan harga (quote), dan likuiditas bukan cuma sedikit melainkan tidak ada sama sekali. Kondisi ini memaksa broker-broker menghentikan trading di pair-pair terkait, diantaranya Forex.com, Saxobank, FXCM, Alpari, Exness, XM, dan lain-lain karena quotes dari bank-bank terhenti (frozen).

Selain itu, para pemain pasar kelas kakap, termasuk bank-bank dunia dan broker forex, spontan panik karena upaya hedging yang dilakukannya dengan memanfaatkan CHF malah berbalik jadi bumerang dan posisi-posisi trader seketika mengalami kerugian besar. IG mengatakan bahwa mereka kemungkinan mengalami kerugian hingga 30 juta Pounds (46 juta US Dolar). Excel Market yang diregulasi FMA New Zealand langsung mengumumkan bahwa mereka terpaksa gulung tikar gara-gara mengalami rugi total, walau dana klien tetap aman karena disimpan di rekening terpisah dan klien bisa segera mengajukan permohonan withdrawal.

Carut-marut ini diperkirakan akan berlangsung hingga beberapa waktu kedepan, setidaknya hingga rapat ECB dan pemilu Yunani pekan depan. Trader disarankan untuk merevisi trading plan dan analisanya apabila bertrading dengan pair-pair yang terkait.

218599

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

18 Jul 2019