Data Tenaga Kerja Inggris Beragam, Sterling Tetap Sideways

Data tenaga kerja Inggris menunjukkan tingkat pengangguran terendah sejak bulan Februari 1975, meski klaim pengangguran dan laju pertumbuhan gaji meleset.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling melemah tipis pada kisaran 1.2918 terhadap Dolar AS, sekitar 30 menit setelah rilis serangkaian data tenaga kerja Inggris pada pertengahan sesi Eropa hari Selasa ini (19/Februari). Secara umum, pasangan mata uang GBP/USD tetap bergerak sideways dalam kisaran sangat sempit. Sterling juga masih dalam posisi menguat versus Yen serta stabil lawan Euro.

Laporan tenaga kerja Inggris terbaru memuat jumlah klaim pengangguran dan laju pertumbuhan gaji yang meleset dari ekspektasi, tetapi tingkat pengangguran tetap pada level terendah sejak bulan Februari 1975. Data ini pun diperkirakan takkan mendorong bank sentral untuk mengubah kebijakan dalam waktu dekat.

GBPUSD Daily

Menurut UK Office for National Statistics (ONS), tingkat pengangguran Inggris tetap pada level 4.0 persen, sesuai ekspektasi. Jumlah warga yang memperoleh pekerjaan mengalami peningkatan sebanyak 167,000, lebih tinggi dari estimasi awal yang dipatok pada 152,000.

Sementara itu, jumlah klaim pengangguran (Claimant Count Change) meningkat sebanyak 14.2k dalam bulan Januari 2019. Pertambahan tersebut lebih besar dibandingkan estimasi awal 12.3k; tetapi lebih rendah dibanding kenaikan 20.2k pada bulan Desember, dan masih pada tingkat terendah dalam lima bulan terakhir.

Claimant Count Change

Indeks Pendapatan Rata-rata+Bonus tahunan hanya tumbuh 3.4 persen pada bulan Desember 2018 di negeri yang beribukota di London itu, meleset tipis dari ekspektasi yang dipatok pada 3.5 persen. Namun, Indeks Pendapatan Rata-rata (tanpa bonus) meningkat sesuai ekspektasi sebesar 3.4 persen dalam bulan Desember 2018, masih melaju dengan kecepatan tertinggi sejak era krisis keuangan 10 tahun lalu.

Rangkaian data ini mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja Inggris yang relatif solid, meskipun terjadi perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian Brexit dan konflik perdagangan global. Hal itu selaras pula dengan klaim Bank of England sebelumnya bahwa laju inflasi Inggris akan tetap kokoh dengan dukungan pertumbuhan gaji yang berkelanjutan. Namun demikian, rangkaian data ini belum tentu mendorong bank sentral Inggris itu untuk menaikkan suku bunga, karena mereka telah menyatakan bahwa perubahan kebijakan hanya akan diambil setelah ketidakpastian Brexit usai.

287450

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.