Di Tengah Eskalasi AS-China, Dolar AS Jeblok Merespon PMI Jasa

PMI ISM Non Manufaktur (Jasa) AS dilaporkan memburuk. Data tersebut muncul di tengah ketegangan AS-China pasca devaluasi Yuan pagi tadi.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS melemah di sesi perdagangan Senin (05/Agustus) malam ini, setelah rilis data Non Manufaktur AS dan potensi "Currency War" yang kian memuncak pasca devaluasi Yuan. Terlebih lagi, Presiden AS Donald Trump akhirnya angkat bicara menanggapi kebijakan China terkait mata uangnya. Indeks Dolar AS (DXY) turun ke level terendah sejak 23 Juli, jeblok hingga 0.57 persen ke 97.54 dalam time frame harian saat berita ini ditulis.

dxy

 

PMI ISM Non Manufaktur AS Turun

Pertumbuhan sektor jasa AS melorot di bulan Juli 2019, menuju level terendah tiga tahun. The Institute for Supply Management (ISM) melaporkan, Indeks PMI Non Manufaktur AS turun dari 55.1 ke 53.7. Hasil tersebut lebih rendah daripada ekspektasi kenaikan ke 55.5. Dalam grafik di bawah ini, tampak bahwa level tersebut adalah yang terendah sejak Agustus 2016.

united-states-non-manufacturing-pmi

Perlambatan pertumbuhan di sektor jasa AS ini terjadi di tengah gesekan perdagangan antara AS dan China yang memanas. Padahal, dua pertiga dari keseluruhan aktivitas ekonomi AS bergantung pada sektor jasa.

"Bagi sebuah perekonomian yang sangat bergantung pada sektor jasa, hal ini (penurunan indeks) merupakan sebuah rilis yang sangat bermasalah," komentar Ian Lyngen, Kepada Ahli Strategi di BMO Capital Markets.

 

 

Trump Marah Tanggapi Tindakan China

Para analis menilai, penurunan yang terjadi pada data-data ekonomi AS, khususnya PMI Manufaktur dan Non Manufaktur, tak bisa dilepaskan dari perseteruan dagang antara AS dan China yang kembali memanas saat ini. Pagi tadi, China dikabarkan membiarkan Yuan jatuh di bawah 7 Dolar AS. Langkah devaluasi tersebut membuat aksi Penghindaran Risiko merebak. (Baca juga: China Devaluasi Yuan, USD/JPY dan AUD/USD Ambruk)

Trump pun meradang mengetahui hal tersebut. Ia kembali menyalahkan The Fed dan menyebut aksi China sebagai sebuah tindak pelanggaran. Padahal, ia sendiri yang terlebih dulu mengingkari kesepakatan gencatan perang dagang di KTT G20 Osaka bulan Juni lalu. Sebelum China mendevaluasi Yuan-nya, Trump telah mengancam akan menaikkan tarif lagi bulan September depan, khususnya apabila kesepakatan tak tercapai.

289529

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.


15 Jul 2019