Dolar AS Naik Tipis Setelah Serangkaian Data Bikin Miris

Indek Dolar AS naik tipis, tetapi masih dibebani oleh pernyataan beberapa pejabat Federal Reserve dan sejumlah rilis data ekonomi pada hari Kamis.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) menanjak lagi pada perdagangan sesi Asia hari Jumat ini (22/Februari), meskipun kenaikannya dibatasi oleh sejumlah sentimen negatif. Saat berita ditulis, DXY meningkat 0.4 persen di kisaran 96.65, setelah ditutup naik tipis pada sesi New York. Namun, Greenback masih dibebani oleh pernyataan beberapa pejabat Federal Reserve dan sejumlah rilis data ekonomi Amerika Serikat pada hari Kamis.

Indeks Dolar AS

 

Data Ekonomi AS Kompak Memerah

Pada hari Kamis malam, sejumlah pejabat Federal Reserve menyampaikan pendapat mereka yang cenderung dovish. Presiden FED St. Louis, James Bullard, mengungkapkan bahwa Federal Reserve kemungkinan sudah mendekati akhir dari rangkaian kenaikan suku bunga dan program pemangkasan neraca. Presiden Fed Atlanta, Raphael Bostic, juga menyatakan bahwa kebijakan suku bunga Fed saat ini sudah mendekati netral.

Komentar-komentar dovish tersebut mengemuka bersamaan dengan rilis beberapa data ekonomi AS yang kompak meleset dari ekspektasi. Data Core Durable Goods Orders hanya naik 0.1 persen (MoM) pada bulan Desember; alih-alih naik 0.2 persen sebagaimana diperkirakan sebelumnya. Untungnya, Durable Goods Orders secara keseluruhan masih tumbuh 1.2 persen (MoM) pada periode tersebut.

Philadelphia Fed Manufacturing Index ambruk dari +17.0 menjadi -4.1 pada bulan Februari; khususnya karena kemerosotan pesanan baru (new orders). Existing Home Sales pun dilaporkan hanya tumbuh -1.2 persen (MoM) pada bulan Januari; lebih baik dibandingkan -4.1 persen pada periode sebelumnya, tetapi lebih buruk dari ekspektasi yang dipatok pada +0.8 persen.

 

Rival Greenback Kehilangan Daya

Di tengah rentetan kabar negatif tersebut, Dolar AS berhasil menguat berkat dukungan kenaikan yield obligasi AS. Pada sesi New York, yield obligasi AS jangka panjang meroket ke level tertinggi satu minggu, di tengah kemerosotan minat risiko pasar dan bertambahnya ekspektasi akan tercapainya kesepakatan perdagangan antara AS dan China.

Dolar Australia dan rekan-rekan comdoll-nya berupaya bangkit kembali dalam perdagangan sesi Asia hari ini. Namun, pelaku pasar masih menimbang-nimbang efek pelarangan impor batu bara Australia yang dirilis pelabuhan Dalian kemarin; sementara perundingan perdagangan AS-China masih alot meski telah memasuki tahap pembuatan draft garis besar.

Mata uang rival AS lainnya juga tak menunjukkan kinerja prima dari segi fundamental. Euro masih dibebani oleh rilis data Purchasing Managers' Index sektor manufaktur yang mengalami kontraksi baru-baru ini, sedangkan Poundsterling lesu lantaran negosiasi Inggris dan Uni Eropa tentang kesepakatan Brexit yang masih terus berlanjut.

287494

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.