Dolar AS Stabil, Data Penjualan Ritel April 2019 Jadi Sorotan

Trader Dolar AS mewaspadai data penjualan ritel AS, yang dikhawatirkan memperkuat indikasi perlambatan ekonomi di tengah sengitnya konflik dagang kedua negara.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS stabil pada kisaran 97.52 pada awal perdagangan sesi Eropa hari ini (15/Mei), setelah menanjak cukup tinggi pada sesi New York. Buruknya data produksi industri China yang dirilis tadi pagi telah membuat pelaku pasar lebih berhati-hati menjelang publikasi data penjualan ritel Amerika Serikat nanti malam, karena dikhawatirkan memperkuat indikasi perlambatan ekonomi global di tengah sengitnya konflik dagang kedua negara.

DXY Daily

 

Penjualan Ritel AS Disoroti Pasar

Tadi pagi, output industri China dilaporkan hanya tumbuh 5.4 persen (Year-over-Year) pada bulan April, meleset dari ekspektasi yang dipatok pada 6.5 persen. Data tersebut bukan hanya memicu kejatuhan AUD/USD yang rentan risiko, melainkan juga memancing perhatian lebih besar bagi rilis data penjualan ritel AS bulan April 2019 serta GDP Zona Euro kuartal I/2019 dalam beberapa jam ke depan

"Dikarenakan data lemah dari China, pasar tidak akan bisa menghindari reaksi (gejolak) jika data Amerika Serikat juga lemah," kata Ayako Sera, pakar strategi pasar dari Sumitomo Mitsui Trust Bank, kepada Reuters. Ia menambahkan, "Pertanyaannya adalah apakah kita akan menyaksikan data lemah secara beruntun; atau apakah data China saja yang lemah, sedangkan data AS tetap kuat."

Saat awal mula Presiden AS Donald Trump memicu perang dagang, posisi Dolar AS cenderung menguat setiap kali terjadi eskalasi, karena asumsi bahwa China menanggung kerugian lebih besar dalam konflik tersebut. Namun, sejumlah cuitan Trump belakangan ini menumbuhkan kekhawatiran pasar akan ancaman konflik dagang bagi ekonomi AS itu sendiri, sehingga Dolar AS cenderung sideways.

 

Kenaikan Tarif Impor Bisa Memantik Risiko Resesi AS

Secara keliru, Trump mengklaim dalam beberapa cuitannya di Twitter bahwa AS memetik pendapatan lebih besar dari kenaikan tarif impor yang dibayar oleh China. Padahal, konsumen AS-lah yang secara langsung membayar kenaikan tersebut, walaupun efek penurunan permintaan akibat kenaikan tarif memang berdampak pula terhadap perekonomian China. Banyak industri AS terpaksa menaikkan harga produknya karena harga bahan baku asal China jadi melonjak.

Di sisi lain, sektor pertanian di sejumlah negara bagian AS malah lumpuh. China menerapkan tarif impor super tinggi sebagai balasan atas tindakan AS ke sektor ini, sehingga ekspornya ke negeri Panda macet. Namun, mereka juga tak dapat memasarkan outputnya ke destinasi lain.

Dalam survei Bloomberg terhadap para ekonom baru-baru ini, empat perlima responden memperkirakan kalau eskalasi tarif impor akan meningkatkan kemungkinan bagi perekonomian AS untuk mengalami resesi pada akhir tahun depan. Presiden Fed wilayah New York, John Williams, juga mengatakan bahwa tarif impor telah mulai mendorong inflasi AS dan akan berdampak lebih besar lagi seiring kenaikannya, meskipun perekonomian AS saat ini masih baik.

 

Relevansi Data Penjualan Ritel April Dipertanyakan

Terlepas dari berbagai pertimbangan tersebut, Kathy Lien dari BK Asset Management menilai kalau efek rilis data penjualan ritel kali ini bisa jadi singkat saja. Hal itu dipaparkan dalam catatannya yang dirilis kemarin (sebelum publikasi data produksi industri China).

"Laporan penjualan ritel hari Rabu adalah salah satu bagian data AS paling penting yang dijadwalkan rilis minggu ini. Pengeluaran (konsumen) itu penting bagi perekonomian, karena tanpa pengeluaran (konsumen), tak ada pertumbuhan. Dan tanpa pertumbuhan, tak ada pekerjaan. Namun, laporan penjualan ritel (yang dipublikasikan) bulan ini bisa dikesampingkan dengan cepat, karena tingkat pengeluaran bulan April bukanlah refleksi akurat untuk laju permintaan (konsumen) yang akan datang."

"Antara jatuhnya saham hingga 1000 poin dalam bulan ini dan eskalasi konflik dagang AS-China, konsumen bisa jadi akan makin enggan untuk berbelanja dalam beberapa bulan ke depan. Dengan mengingat hal itu, pertumbuhan pekerjaan kokoh, peningkatan gaji, dan harga bahan bakar lebih tinggi (sebelum eskalasi konflik AS-China) semestinya mendongkrak penjualan ritel bulan April. Ekspektasi 0.2 persen juga sangat rendah hingga tak akan sulit bagi data (aktual) untuk melampauinya."

288525

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

30 Apr 2019