Advertisement

iklan

Dolar AS Temukan Pijakan, Masih Dibebani Banyak Faktor

Sejumlah pihak meragukan keberlanjutan penguatan Dolar AS hari ini, karena masih cukup banyaknya faktor yang membebani.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS mulai rebound dari level terendah sejak Desember 2014 setelah rilis data Perumahan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu. Meski sempat tertekan pada perdagangan sesi Asia hari Senin ini (19/Februari), tetapi Indeks Dolar AS (DXY) bertolak naik lagi saat memasuki sesi Eropa. Ketika berita ditulis, DXY meningkat 0.17% ke 89.23, setelah mencatat level tinggi intraday pada 89.27. Namun demikian, sejumlah pihak meragukan keberlanjutan penguatan Dolar AS, karena masih cukup banyaknya faktor yang membebani mata uang ini.

Dolar AS

 

Penurunan Sebelumnya Dipandang Berlebihan

Sejak awal tahun 2018, Dolar AS ditekan oleh berbagai faktor, termasuk diantaranya kekhawatiran mengenai laju inflasi tinggi yang tak dibarengi pertumbuhan ekonomi (stagflasi) serta pembengkakan defisit anggaran di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Keunggulan suku bunga AS yang lebih tinggi juga diperkirakan akan terpangkas, karena sejumlah bank sentral mayor lainnya diekspektasikan menaikkan suku bunga tahun ini.

Faktor-faktor tersebut sebenarnya belum berubah dalam pekan ini. Namun, Dolar tetap mengalami pemulihan pasca rilis data Building Permits dan Housing Starts yang lebih baik dari ekspektasi pada hari Jumat, dikarenakan penurunan sebelumnya dianggap agak kebablasan.

"Penurunan Dolar pekan lalu barangkali terlalu berlebihan. Contohnya, penurunan Dolar ke level pertengahan 105 yen terlalu cepat," ujar Yukio Ishizuki, pakar strategi mata uang senior di Daiwa Securities Tokyo, pada Reuters. Lanjutnya, "Karenanya, kita melihat Dolar rebound, secara cukup natural jika dibandingkan dengan skala kejatuhannya baru-baru ini."

 

Nantikan Notulen FOMC

Pasangan mata uang EUR/USD terpantau mundur ke 1.2399 saat berita ditulis, setelah gagal menembus resisten di kisaran 1.2500 pada hari Jumat. Poundsterling juga menurun hingga 0.20% terhadap Dolar AS, dengan GBP/USD diperdagangkan di kisaran 1.4005. USD/JPY melesat 0.33% ke 106.60 setelah pembukaan pasar Eropa, meskipun sempat depresi di sesi Asia, setelah pasar memperhitungkan ulang dampak penunjukan kembali Haruhiko Kuroda sebagai Gubernur Bank Sentral Jepang.

Meski demikian, sejumlah analis menilai outlook jangka panjang Dolar AS masih belum jelas. Masashi Murata, pakar strategi senior di Brown Brothers Harriman, Tokyo, memaparkan, "Kekhawatiran tentang inflasi serta defisit fiskal dan defisit dagang akan membuat Dolar tetap defensif. Selain (dikarenakan) mata uang mayor seperti Yen dan Pounds, sejumlah porsi tekanan jual signifikan pada Dolar diekspektasikan datang dari mata uang negara berkembang, yang memiliki yield (suku bunga) lebih tinggi atau didukung oleh surplus Neraca Berjalan."

Rilis Notulen Rapat Kebijakan Bank Sentral AS (FOMC) pada hari Kamis dinantikan pasar guna memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai langkah-langkah otoritas moneter ke depan. Dengan inflasi AS nyata-nyata melaju pesat, pasar akan menilik apakah ada sinyal kesediaan bank sentral untuk menaikkan suku bunga lebih cepat. Selain itu, akhir bulan Februari nanti, pimpinan FED baru, Jay Powell, akan menyampaikan laporan moneter tengah tahunnya pada Kongres. Pesan-pesannya bisa menyetel ulang situasi pasar di bulan Maret.

282420

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


24 Sep 2019