Advertisement

iklan

Dolar AS Tumbang Akibat Anjloknya Surplus Dagang China

Rilis data surplus dagang China memicu kemerosotan bursa saham Asia dan Dolar AS. Pasalnya, laporan tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Rilis data neraca perdagangan China yang amat mengecewakan pada siang hari ini (8/Maret) memicu kemerosotan bursa saham Asia, serta ikut berkontribusi dalam menjatuhkan Dolar AS terhadap mata uang Safe Haven lain, khususnya Yen. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa, USD/JPY merosot sekitar 0.5 persen ke kisaran 111.04, setelah sempat mencetak level terendah pada 110.95.

USDJPY Daily

Pemerintah China melaporkan bahwa surplus neraca perdagangan anjlok dari USD39.16 Miliar menjadi USD4.12 Miliar dalam bulan Februari 2019; padahal sebelumnya diekspektasikan hanya akan menurun hingga USD26.38 Miliar. Tumbangnya surplus dagang China pada periode tersebut, terutama disebabkan oleh merosotnya ekspor sebesar 20.7 persen (Year-on-Year), setelah sempat meningkat 9.1 persen pada bulan Januari. Impor juga lesu dengan mencatat penurunan 5.2 persen, lebih parah dibandingkan penurunan 1.4 persen yang diestimasikan sebelumnya.

Kabar ini langsung menumbangkan indeks saham Shanghai sebesar lebih dari 4 persen dan membangkitkan kembali kekhawatiran pelaku pasar mengenai risiko perlambatan ekonomi dunia. Masalahnya, China merupakan negeri dengan skala perekonomian terbesar kedua dunia, serta memiliki hubungan kemitraan dengan puluhan negara lain yang berpotensi bakal terdampak pula jika kondisi perekonomian mereka memburuk.

Dalam catatannya sore ini, Boris Schlossberg dari BK Asset Management mengutarakan, "Indeks Shanghai merosot sebesar lebih dari 4 persen dalam performa terburuknya sejak Oktober tahun lalu, disebabkan ketakutan kalau pemerintah China akan memperlambat reli saat ini dan karena data perdagangan China yang sangat lemah. Neraca dagang China meleset sangat jauh dari ekspektasi dengan tercatat pada 34 Miliar Yuan vs 228 Miliar Yuan, sedangkan ekspor merosot lebih dari 20 persen. Sebagian penyebab kejatuhan (neraca dagang) bisa jadi penyesuaian musiman saat Tahun Baru China, tetapi penurunannya sangat besar, sehingga jelas menunjukkan rendahnya permintaan dan bisa menjadi sinyal buruk bagi pertumbuhan China tahun ini."

Kemerosotan minat risiko mendadak tadi siang juga menyeret USD/CHF dan indeks Dolar AS (DXY). Pasangan Dolar-Swissy telah melorot sekitar 0.20 persen ke kisaran 1.0094; sementara DXY selip sekitar 0.14 persen ke kisaran 97.47, walaupun sebelumnya sempat melesat berkat pelemahan Euro pasca pengumuman ECB terbaru.

Selanjutnya, pelaku pasar akan menantikan rilis data Non-farm Payrolls (NFP) dan serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat lainnya pada pukul 20:30 WIB. Estimasi awal menunjukkan perkiraan NFP akan jatuh dari 304k menjadi 170k. Namun, Schlossberg dan mitranya, Kathy Lien, menilai kalau fokusnya akan terletak pada pertumbuhan gaji. Sebagaimana ditulis oleh Lien, "Menurut Beige Book yang dirilis Fed, sejumlah distrik melaporkan ketatnya pasar tenaga kerja dan kekurangan karyawan vital. Hal ini membuat kami meyakini kalau pertumbuhan gaji akan meningkat pada Februari."

287668

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019