OctaFx

iklan

Dolar Australia Melemah Seiring Dengan Penurunan Yuan

Dolar Australia memperpanjang pelemahan di akhir pekan ini, menyusul anjloknya nilai Yuan yang diakibatkan oleh semakin turunnya sentimen pasar terhadap ekonomi China.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Dolar Australia melemah tajam pada hampir semua mata uang utama di sesi perdagangan hari Kamis (27 Juli) pagi ini. Anjloknya AUD tampaknya disebabkan oleh pelemahan baru mata uang Yuan China terhadap Dolar AS, yang saat ini tengah menantikan rilis data GDP. Bukti pelemahan tajam Aussie terlihat pada saat pembukaan pasar Sydney tadi pagi (pukul 4:00 WIB), tepatnya ketika AUD/USD melemah -1.05 persen.

 

AUD/USD - 27 Juli

 

Pergerakan bearish tersebut diiringi dengan AUD/JPY yang juga turun sebanyak -0.82 persen. Sedangkan terhadap Dolar Kanada, AUD tercatat melemah -0.72 persen, dan terhadap Sterling mengalami penurunan -0.24 persen. Dolar Australia bahkan melemah juga terhadap mata uang negara tetangganya (NZD) sebesar -0.24 persen.

 

Yuan Dalam Posisi Tak Menguntungkan

Yuan dikabarkan turun tajam karena pandangan pasar yang semakin pesimis terhadap Outlook ekonomi China. Kebijakan moneter baru yang diumumkan PBoC kemarin pun tak banyak membantu pergerakan Yuan. USD/CNY justru melesat dari 6.7864 ke 6.8214 dalam sesi perdagangan kemarin (26 Juli). Disinyalir, masalah perang dagang juga masih membebani sentimen investor terhadap Yuan.

Yuan China diperkirakan akan terus mempengaruhi pergerakan Dolar Australia di sepanjang perdagangan akhir pekan, saat perhatian pasar tengah tertuju pada laporan GDP AS kuartal kedua yang dijadwalkan rilis di awal sesi New York nanti malam.


Dolar AS Menguat Karena Beberapa Faktor

Selain sangat dipengaruhi oleh Yuan China, pelemahan tajam Dolar Australia juga disebabkan oleh penguatan Greenbacak terhadap Euro, terutama pasca pengumuman kebijakan moneter ECB bulan Juli.

Secara keseluruhan, pernyataan Draghi tadi malam hampir sama dengan pengumuman kebijakan moneter sebelumnya . ECB tidak akan melakukan Rate Hike di sisa tahun 2018 dan mulai mempertimbangkannya setidaknya pada paruh kedua 2019 mendatang. Bank Sentral Eropa tersebut kembali mengkonfirmasi pengurangan stimulus yang akan berakhir di penghujung tahun ini, tapi juga mencermati pentingnya menerapkan kebijakan tersebut secara perlahan.

Dukungan lain seperti rilis Durable Goods Orders dan Jobless Claims tadi malam seolah menjaga momentum penguatan Greenback versus Major Curencies lain. Meski di bawah ekspektasi, laporan data-data tersebut mampu menunjukan geliat ekonomi AS yang semakin membaik pada kuartal kedua 2018.

284630

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


15 Jul 2019

18 Jul 2019