Dolar Flat Setelah China Balas Tarif Impor AS, Dinilai Sesuai Ekspektasi

Indeks Dolar AS statis karena langkah China meluncurkan serangkaian tarif impor balasan bagi produk-produk asal AS, ditanggapi lebih kalem oleh pelaku pasar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam perdagangan sesi Asia hari ini (14/Mei), pasangan mata uang USD/CNY menyentuh level tertinggi baru tahun ini pada kisaran 6.879. Namun, indeks Dolar AS (DXY) masih relatif stabil sekitar level 97.30-an. Setelah China meluncurkan serangkaian tarif impor balasan bagi produk-produk asal Amerika Serikat pada sesi New York kemarin, pelaku pasar menanggapinya dengan relatif lebih tenang karena skalanya dianggap sesuai perkiraan.

DXY Daily

 

Trump Akan Bertemu Xi

Eskalasi konflik perdagangan antara Amerika Serikat dan China tak terelakkan lagi. China telah mengumumkan akan menaikkan tarif impor atas beraneka produk asal AS, mulai dari sayuran beku hingga LNG. Namun, total produk yang dikenai peningkatan tarif impor tersebut hanya mencapai USD60 Miliar saja; lebih rendah dibandingkan total USD200 Miliar produk China yang sebelumnya dikenai peningkatan tarif impor oleh AS.

Menanggapi langkah China, kantor perwakilan dagang AS mengumumkan akan membuka dengar pendapat mengenai kemungkinan menaikkan tarif impor atas USD200 Miliar produk China lagi pada bulan depan. Namun, Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi bahwa ia akan berjumpa dengan Presiden China Xi Jinping dalam ajang pertemuan G20 di Jepang pada akhir bulan Juni, sehingga kesepakatan bisa tercapai dalam 3-4 minggu mendatang.

 

Reaksi Pasar Teredam

Pelaku pasar forex merespons berbagai perkembangan terbaru ini dengan sikap lebih tenang dibandingkan minggu lalu. Greenback terpantau berupaya rebound versus Yen Jepang, sedangkan Aussie dan comdoll lainnya menguat terhadap Dolar AS. Saat berita ditulis, USD/JPY telah menanjak 0.33 persen ke kisaran 109.65; sementara AUD/USD mempertahankan kenaikan tipis 0.14 persen ke level 0.6952 meski laporan kondisi bisnis Australia memburuk.

"Volatilitas di pasar telah meningkat cukup besar. Saya kira akan butuh waktu lama hingga mereda," kata Yukio Ishizuki, pakar strategi mata uang senior dari Daiwa Securities. Namun, ia menilai kalau situasi tidak akan memburuk lagi sebelum pertemuan Trump dengan Xi. Sebabnya, "Banyak berita negatif telah dirilis. Namun, dengan kondisi sebagaimana adanya sekarang, semua itu sudah diperhitungkan oleh pasar."

Kathy Lien dari BK Asset Management mengutip beberapa sebab lain yang kemungkinan menyebabkan reaksi pasar forex kali ini cenderung sepi. Ia mencatat, "Ketegangan antara AS dan China mendidih; tetapi USD/JPY, AUD/USD, dan NZD/USD hanya turun kurang dari 1 persen. Sementara dapat dikatakan (dalam) aksi jual ketiga pair tersebut sejak bulan lalu, antara keputusan AS untuk menaikkan tarif pekan lalu hingga hari ini, kita hanya menyaksikan pergerakan sekitar 100 pips. Ini memberitahu kita bahwa mata uang-mata uang ini mungkin sudah sangat oversold, investor skeptis pada kemampuan ekonomi AS menanggulangi pertumbuhan lebih lambat dan harga-harga lebih tinggi dari China, atau mereka menunggu untuk sell pada level lebih tinggi."

288508

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


24 Sep 2019