Advertisement

iklan

Dolar Menguat Di Tengah Retaknya Negosiasi Dagang AS-China

Dolar menguat lantaran peningkatan minat pasar terhadap aset-aset Safe Haven yang dipicu oleh sinyal bubarnya negosiasi perdagangan AS-China.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) menanjak 0.15 persen ke kisaran 97.62 dalam perdagangan hari Senin ini (6/Mei). Setelah sempat runtuh akibat laju pertumbuhan gaji yang kurang memuaskan dalam laporan ketenagakerjaan bulan April, Greenback kini bangkit lantaran peningkatan minat pasar terhadap aset-aset Safe Haven yang dipicu oleh sinyal bubarnya negosiasi perdagangan AS-China.

DXY Daily

Pada hari Minggu, Presiden AS Donald Trump mencurahkan ketidakpuasannya terhadap sikap China dalam negosiasi perdagangan antara kedua negara. "Negosiasi dagang dengan China berlanjut, tetapi terlalu lambat, karena mereka berupaya melakukan renegosiasi. No!," demikian dituturkan oleh Trump via Twitter-nya.

Trump menyatakan akan menaikkan tarif yang dikenakan atas USD200 Miliar barang impor dari China dalam pekan ini. Lebih lanjut, tarif impor atas ratusan miliar barang lain bakal diumumkan dalam waktu dekat. Dikejutkan oleh perubahan sikap Trump yang amat drastis, delegasi China dirumorkan tak akan menghadiri putaran perundingan yang sedianya digelar pada hari Rabu mendatang di Washington.

Pemberitaan terbaru dari Reuters menyebutkan bahwa pejabat dari kedua pihak yang berhubungan langsung dengan perundingan ini belum memberikan tanggapan formal. Menyaksikan situasi tersebut, investor dan trader spontan mengalihkan dananya dari aset-aset berisiko lebih tinggi ke instrumen yang lebih aman.

Dolar AS menguat terhadap semua mata uang mayor, kecuali Yen Jepang yang dianggap sebagai Safe Haven dengan status lebih tinggi. Pasangan mata uang USD/JPY terpantau tumbang segera setelah pembukaan sesi Asia hari ini hingga mencatat level terendah harian pada 110.82. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa, USD/JPY telah menguat kembali ke kisaran 110.73 seiring meredanya kepanikan pasar, tetapi mata uang mayor lain masih menorehkan candle merah versus Greenback dalam timeframe Daily.

Dalam sepekan ke depan, bias yang mendukung Dolar AS agaknya akan bertambah. Sebagaimana dikutip oleh Investing, analis dari bank terkemuka ING menilai Dolar AS akan terus dibeli karena adanya kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral di sejumlah negara, termasuk Australia, New Zealand, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

288399

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019