Dolar New Zealand Melemah, RBNZ Dikhawatirkan Pangkas Bunga

Dolar New Zealand dibebani oleh keretakan dalam perundingan dagang AS-China dan kekhawatiran tentang kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh RBNZ.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar New Zealand lumpuh versus sejumlah mata uang mayor lainnya dalam perdagangan hari Selasa ini (7/Mei), menjelang digelarnya rapat kebijakan bank sentral New Zealand (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) esok hari. Pada pertengahan sesi Eropa, pasangan mata uang NZD/USD terpaku dekat kisaran 0.6603, sedangkan AUD/NZD naik sekitar 0.5 persen. Depresiasi Kiwi kali ini disebabkan oleh keretakan dalam perundingan dagang AS-China serta kekhawatiran pelaku pasar mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh RBNZ.

NZDUSD Daily

Dolar New Zealand jatuh cukup tajam terhadap mata uang negeri jirannya pada akhir sesi Asia, karena RBA menyatakan optimismenya terhadap outlook ekonomi domestik dan keengganannya memangkas suku bunga untuk sementara ini. Sebelumnya, pertaruhan pasar mengenai probabilitas pemangkasan bunga oleh RBA dan RBNZ sekitar fifty-fifty. Dengan masih terbukanya peluang pemangkasan suku bunga oleh RBNZ dalam rapat kebijakan esok, maka pernyataan RBA menempatkan Kiwi pada posisi lebih lemah.

Peter Cavanaugh dari Bancorp Treasury Services mengatakan kepada New Zealand Herald, "Pernyataan RBA terbaca netral, sangat netral, dan bahkan, ada sedikit bias positif."

Lebih lanjut, RBA juga optimis inflasi bisa mencapai target 2 persen pada tahun 2020 dan pasar tenaga kerja akan tetap kuat. Terkait dengan itu, Cavanaugh berkomentar, "(Setelah) Anda baca semua itu, maka Anda akan mempertanyakan mengapa mereka harus melakukan (perubahan kebijakan) apapun."

Pelaku pasar akan memantau apakah RBNZ bakal mempertahankan suku bunga tetap pada level 1.75 persen dan memberikan sinyalemen yang sama optimisnya dengan RBA seusai rapat kebijakan esok hari. Sebelumnya, probabilitas pemangkasan suku bunga oleh RBNZ sedikit lebih tinggi ketimbang RBA.

Selain itu, pelaku pasar juga akan terus memerhatikan perkembangan dalam perundingan perdagangan AS-China. Setelah Presiden AS Donald Trump mencetuskan ancamannya untuk menaikkan tarif impor atas produk-produk China pada akhir pekan lalu, sempat beredar rumor bahwa China tidak akan melanjutkan perundingan dengan AS. Namun, tadi pagi, Kementerian Perdagangan China mengumumkan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He tetap menghadiri perundingan berikutnya di Washington pada hari Kamis dan Jumat.

288421

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019