OctaFx

iklan

Dolar Reli Didukung Rebound Yield US10YT, Sentimen Masih Rapuh

Dolar AS menguat berkat dukungan rebound yield obligasi pasca rilis GDP AS, tetapi sentimen pasar masih rawan koreksi karena ketidakpastian perang dagang.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) reli lagi setinggi 0.15 persen ke level 98.60 pada awal sesi Eropa (30/Agustus). Minat risiko pasar sedikit pulih berkat ajakan damai China serta rilis data GDP AS kuartal II/2019 yang mendorong rebound yield obligasi pemerintah AS bertenor 10-tahunan (US10YT) kemarin. Namun, sentimen risiko pasar secara umum masih rentan koreksi. Apalagi, DXY kini telah menyentuh level resisten penting secara teknikal.

DXY Daily

Pertumbuhan GDP Amerika Serikat kuartal II/2019 direvisi turun dari 2.1 persen menjadi 2.0 persen (annualized) dalam laporan second estimate. Namun, penurunan tersebut selaras dengan ekspektasi konsensus ekonom. Di sisi lain, laporan yang sama mencatat pertumbuhan konsumen personal yang jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi sebelumnya, sehingga menandakan bahwa kondisi ekonomi AS relatif tangguh. Indikator sektor konsumen yang mencakup dua pertiga GDP AS tersebut mengalami kenaikan 4.7 persen, direvisi naik dari 4.3 persen dalam laporan bulan lalu.

Laporan GDP AS di atas sontak mendongkrak yield obligasi US10YT dari 1.4586 (level terendah sejak tahun 2016) ke level 1.538 persen. Minat risiko pasar juga pulih di pasar keuangan global pada sesi New York, berkat pernyataan China bahwa mereka akan kembali melanjutkan perundingan dagang dengan AS pada bulan September mendatang. Meski demikian, sebagian pelaku pasar masih ragu kalau kesepakatan bakal tercapai antara kedua negara adidaya itu.

"Ketegangan antara China dan AS masih berkembang dan sangat sulit diprediksi, dikarenakan beragamnya pesan (yang disampaikan kepada media -red) musim panas ini, tetapi nada damai dari Beijing mengisyaratkan adanya peningkatan tekanan internal untuk menyelesaikan konflik, karena beban ekonomi jelas mulai menimbulkan korban," kata Boris Schlossberg dari BK Asset Management kemarin. Namun, ia dan rekannya, Kathy Lien, menyarankan trader agar tetap skeptis hingga salah satu pihak mensuspensi tarif dan (idealnya) sebuah kesepakatan dagang ditandatangani.

289878

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


24 Sep 2019