Advertisement

iklan

Euro Tumbang, Dolar Menggeliat Akibat Merosotnya Laju GDP Jerman

Rilis data GDP Jerman tahun 2018 menunjukkan rekor pertumbuhan paling buruk dalam lima tahun terakhir, sehingga mengakibatkan Euro merosot spontan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Euro anjlok 0.33 persen terhadap Dolar AS ke level terendah lima hari di sekitar 1.1430 pada pertengahan sesi Eropa hari Selasa ini (15/Januari), setelah rilis data GDP Jerman tahun 2018 menunjukkan rekor pertumbuhan paling buruk dalam lima tahun terakhir. Walaupun data Neraca Perdagangan yang dirilis nyaris bersamaan menunjukkan peningkatan surplus, tetapi pelaku pasar lebih mengkhawatirkan sinyal perlambatan ekonomi Zona Euro.

Euro Tumbang Akibat Merosotnya Laju GDP Jerman

 

GDP Jerman Terburuk Dalam Lima Tahun

Kantor statistik federal melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jerman sepanjang tahun 2018 hanya mencapai 1.5 persen, jauh lebih buruk dibandingkan ekspansi 2.2 persen yang dialami pada tahun 2017. Ini merupakan pertumbuhan GDP paling rendah sejak tahun 2013 dan memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan Zona Euro, karena Jerman merupakan negara ekonomi terbesar di kawasan ini.

Data GDP Jerman 2018

Selain itu, walau angka GDP Jerman tersebut sesuai dengan ekspektasi analis, tetapi membangkitkan kekhawatiran tentang rencana kenaikan suku bunga ECB di tengah perlambatan ekonomi dunia, konflik dagang berkelanjutan dengan AS, serta risiko ketidakpastian Brexit.

"Ada peningkatan kerisauan mengenai dinamika ekonomi Zona Euro. (Data) ini mengonfirmasi kerisauan tersebut dan sekarang kami mengekspektasikan ECB akan lebih berhati-hati," ujar Esther Maria Reichelt, pakar analisa forex dari Commerzbank. Lanjutnya lagi, "Dalam jangka pendek, risiko terbesar bagi Eropa dan Euro adalah Brexit yang kacau dan bertepatan dengan momen paling jelek untuk perekonomian Jerman."

 

Pergelutan Bears vs Bulls Jelang Voting Di Parlemen Inggris

Rilis data GDP Jerman memicu aksi jual Euro sekaligus membalik posisi Indeks Dolar AS yang tertekan selama sesi Asia dan awal sesi Eropa, sehingga DXY naik 0.26 persen ke level 95.84. Sementara itu, Pounds yang sebelumnya ditunjang oleh optimisme menjelang voting di Parlemen Inggris hari ini juga mulai dibayangi aksi jual spekulator, sehingga GBP/USD anjlok sekitar 0.40 persen ke level 1.2841, dan EUR/GBP memangkas pelemahan di kisaran 0.8899.

"Para spekulator tengah bertaruh bahwa kegagalan voting bisa mengakibatkan tertundanya Brexit dari 29 Maret ke Juli untuk memberi waktu bagi pemilu baru atau referendum kedua," ujar Philip Wee, pakar strategi dari DBS, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Namun, sebagian pelaku pasar lainnya bertaruh kalau Pounds bakal anjlok segera setelah PM Theresa May kalah besar dalam voting tersebut.

287018

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.