EUR/USD Akan Menguat Atau Melemah? Perhatikan Faktor Fundamental Ini

Apakah EUR/USD bakal reli bullish lagi, atau justru merosot lebih jauh? Ulasan ini merangkum beberapa faktor fundamental yang perlu diperhatikan trader.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Per hari ini (09/Mei), EUR/USD telah jatuh ke kisaran terendah sejak bulan Juni 2017. Sinyal pemulihan ekonomi yang kurang solid serta berbagai gonjang-ganjing geopolitik mendorong penguatan aset-aset safe haven, yang mana Euro tidak termasuk diantaranya. Akan tetapi, laju pelemahannya mulai melambat dalam beberapa hari belakangan setelah tiba pada area kritis dalam timeframe Monthly. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah EUR/USD bakal reli bullish lagi, atau justru merosot lebih jauh? Apabila Anda termasuk trader pemerhati outlook jangka panjang, ulasan ini merangkum beberapa faktor fundamental yang perlu diperhatikan.

EURUSD Daily

 

Sell in May and Buy in June?

Euro cenderung melemah terhadap Dolar AS pada bulan Mei. Fakta tersebut diungkap oleh Derek Halpenny dari MUFG, sebagaimana dikutip oleh Poundsterling Live pada awal pekan ini. Sebuah tabel yang menampilkan nilai tukar Euro versus Dolar dalam 17 tahun terakhir cenderung jatuh 0.73 persen pada bulan Mei. Bahkan, fenomena ini makin menajam dalam 10 tahun terakhir.

SIklikal Euro

Dalam 8 dari 10 tahun terakhir, EUR/USD merosot dengan rata-rata 1.7 persen. Sebaliknya, bulan Juni justru menandai momen rebound dengan penguatan dalam 6 dari 10 tahun terakhir. Namun, Halpenny mensinyalir kalau rebound Euro bisa jadi tiba lebih dini tahun ini.

"Walaupun 'efek Mei' bisa bertahan karena kekuatan Dolar AS dan (imbas) rapat FOMC berlanjut hingga Mei, (tetapi) Euro sudah cukup lemah dan data Dodd-Frank Options Flow baru-baru ini mengindikasikan sentimen yang lebih bullish bagi Euro."

 

5 Alasan Bagi Euro Untuk Menguat

Analis dari bank terkemuka ING menyajikan outlook mengenai aspek fundamental Euro yang lebih luas untuk jangka menengah dan panjang. Menurut mereka, Euro masih bearish dalam jangka pendek dan berisiko jatuh ke level 1.10, tetapi selanjutnya bisa pulih kembali. ING memperkirakan EUR/USD akan meningkat bertahap ke 1.15 dalam paruh kedua tahun 2019, kemudian menggapai 1.2 pada tahun 2020.

Ada 5 alasan yang melatarbelakangi antisipasi bullish Euro oleh ING ini. Yaitu:

  1. Pertumbuhan AS saat ini (3.2 persen) mengungguli Zona Euro (1.2 persen), tetapi tidak bisa berkelanjutan karena hanya merupakan efek penimbunan inventory dan perdagangan. ING memprediksi pertumbuhan AS akan selip ke bawah 2 persen pada tahun 2020, sementara Zona Euro kemungkinan mempertahankan pertumbuhan antara 1.1-1.5 persen selama 6-8 kuartal mendatang.
  2. Selisih suku bunga antara dua negara biasanya mendorong arus modal ke satu sisi, karena investor cenderung menyukai mata uang dengan suku bunga lebih tinggi. Hal ini mendukung apresiasi Dolar AS sekarang, tetapi situasi ke depan akan berubah. ING menilai ada risiko penurunan suku bunga AS yang cukup besar, sementara suku bunga Zona Euro kemungkinan akan tetap stagnan. Walaupun pada akhirnya suku bunga Fed tetap lebih tinggi ketimbang ECB, tetapi Dolar AS bisa mengalami depresiasi saat bank sentral melakukan penyesuaian.
  3. Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi, AS akan makin kesulitan mendanai defisit ganda dalam neraca dagang-transaksi berjalan dan anggaran negara. Untuk menutup defisit tersebut, AS akan perlu mencari pinjaman dari mancanegara. Langkah itu tentu bakal menekan Dolar AS.
  4. Berkebalikan dengan AS, neraca pembayaran Zona Euro tampak lebih sehat. Masuknya bank sentral Eropa ke pasar obligasi telah mendesak investor asing, sehingga arus dana lebih mendukung Euro.
  5. Saat ini, Euro dinilai undervalued hingga 19 persen dalam perhitungan berbasis Purchasing Power Parity (PPP). PPP merupakan model perhitungan nilai tukar mata uang berdasarkan pertukaran langsung dua kelompok barang yang sama dari dua negara berbeda, dan acap kali dianggap lebih objektif ketimbang nilai tukar versi pasar.

 

Ancaman Perang Dagang dengan Amerika Serikat

Percikan rumor mengenai benih-benih konflik perdagangan antara AS dan Uni Eropa sudah mulai muncul dalam beberapa waktu belakangan. Berbagai hal dituding bisa memancing perang dagang AS-Eropa dalam hitungan bulan. Diantaranya, ada satu yang paling disoroti oleh pelaku pasar.

Pada pertengahan Februari, Departemen Perdagangan AS telah menyelesaikan laporan yang dikabarkan bisa memberi alasan bagi Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan tarif impor tinggi atas produk otomotif. Trump punya waktu hingga pertengahan Mei ini untuk memutuskan apakah ia bakal menaikkan bea impor atas produk otomotif itu. Jika benar-benar diterapkan, maka Uni Eropa dan Jepang akan terkena dampak terbesar. Namun, para analis optimis kalau AS tidak akan memantik perang dagang dengan Uni Eropa.

Dr Shane Oliver dari AMP Capital mengungkapkan, ada lebih sedikit insentif bagi Trump untuk memicu konflik dagang versus Uni Eropa ketimbang versus China. Selain karena dukungan politik dari Parlemen untuk langkah semacam itu relatif minim, defisit perdagangan AS-Eropa lebih rendah ketimbang defisit AS-China. Perang dagang sekaligus lawan dua rival raksasa (mengingat perundingan dengan China belum final) juga tak menguntungkan bagi Trump menjelang pemilu 2020.

288462

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


21 Mei 2019

30 Apr 2019