Fed Rate Cut Diragukan, Dolar AS Bertengger Di Level Tertinggi 2 Pekan

Dolar AS menguat tipis terhadap sebagian besar mata uang mayor, karena antisipasi pasar menjelang sejumlah rapat kebijakan bank sentral utama pekan ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) melejit pada akhir pekan lalu dan kini (17/Juni) bertengger di level tertinggi dua pekannya pada kisaran 97.55. Data penjualan ritel Amerika Serikat yang terhitung kuat, telah membuat pelaku pasar mempertimbangkan ulang prospek pemangkasan suku bunga Fed (Fed Rate Cut) dalam rapat FOMC besok. Saat berita ditulis, Greenback cenderung menguat tipis terhadap sebagian besar mata uang mayor, dikarenakan antisipasi pasar menjelang sejumlah rapat kebijakan bank sentral utama pekan ini.

DXY DailyGrafik DXY Daily via Tradingview.com

 

Fed Rate Cut Tergantung Negosiasi AS-China

Penilaian mengenai data penjualan ritel AS yang dirilis pada hari Jumat dianggap mengurangi potensi Fed Rate Cut, sehingga mendongkrak Greenback. Menurut FedWatch Tool dari CME, ekspektasi untuk pemangkasan suku bunga pada rapat FOMC 19-18 Juni berkurang dari 28.3 persen menjadi 21.7 persen, meski ekspektasi Fed Rate Cut untuk bulan Juli stagnan pada level 85 persen.

Di sisi lain, walau pasar memprediksi Rate Cut hampir pasti terjadi pada bulan Juli, analis justru mengurangi ekspektasi mereka. Sebagian besar analis saat ini menilai keputusan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga atau tidak, akan tergantung pada bagaimana perkembangan negosiasi dagang AS-China. Pasalnya, pernyataan para pejabat Fed sebelumnya mengenai prospek Rate Cut disampaikan sehubungan dengan imbas perang dagang.

"Pasar memerhitungkan peluang besar pemangkasan bulan Juli, walaupun ada ketidakpastian yang luar biasa besar, khususnya terkait perdagangan. Umpamanya, kami sulit percaya Fed akan memangkas suku bunga jika setelah pertemuan G20, misalnya, ketegangan dengan China berkurang (hal ini bisa sesederhana dilanjutkannya negosiasi kembali)," kata pakar strategi dari RBC, Elsa Lignos.

 

Arah Kebijakan Bank Sentral Lain Tetap Dovish

Sementara itu, trader ragu untuk membuka posisi trading berisiko besar menjelang rapat FOMC, rapat ECB, dan rapat BoE dalam beberapa hari mendatang. Apalagi, arah kebijakan bank sentral di negara mayor non-AS tahun ini dinilai bakal tetap dovish, khususnya Zona Euro.

"Meski musim panas ini semestinya jadi kondisi dolar yang lebih lemah, ada banyak negatif bagi EUR di luar sana (pelonggaran moneter ECB, perang dagang, Italia dan Brexit beberapa diantaranya) untuk mencegah EUR/USD tembus keluar dari kisaran USD1.10-USD1.15 dalam tahun ini," demikian dicatat oleh analis dari bank terkemuka ING, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Perlu diketahui, Presiden ECB Mario Draghi telah mencetuskan kemungkinan diluncurkannya stimulus tambahan, meski memastikan kalau suku bunga takkan diubah hingga setahun ke depan. Bank of England (BoE) masih dibelit ketidakpastian terkait brexit yang menghalanginya untuk melakukan perubahan kebijakan. Sedangkan Bank of Japan (BoJ) juga diperkirakan tidak akan mengubah arah kebijakannya hingga beberapa waktu ke depan.

288848

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

30 Apr 2019