Advertisement

iklan

GDP Jepang Tunjukkan Indikasi Resesi, USD/JPY Menanjak

Data GDP Jepang meroket pesat dalam kuartal pertama tahun 2019, tetapi semua komponen indikator permintaan domestik justru melemah.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Secara mengejutkan, pertumbuhan ekonomi Jepang meroket pesat dalam kuartal pertama tahun 2019. Meski demikian, pelemahan permintaan domestik mengakibatkan analis memandangnya dengan skeptis. Bahkan, sejumlah pakar menilai kalau komponen data GDP Jepang kali ini menampilkan sinyal akan terjadinya resesi.

GDP Jepang

 

Kenaikan GDP Jepang Hanya Karena Selisih Ekspor/Impor

Dalam laporan preliminer, Kantor Kabinet Jepang melaporkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) mengalami kenaikan 0.5 persen (Quarter-over-Quarter) dalam kuartal I/2019. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prediksi awal yang hanya -0.1 persen. Pertumbuhan GDP tahunan spontan terdongkrak dari 1.6 persen menjadi 2.1 persen (Year-on-Year), padahal sebelumnya diperkirakan akan merosot jadi -0.2 persen.

Meski demikian, analis menilai kalau data GDP Jepang kali ini justru menggambarkan permintaan domestik yang lemah. Pertama, impor mengalami kemerosotan lebih tajam dibandingkan ekspor. Impor tercatat anjlok 4.6 persen -paling parah dalam satu dekade-, sedangkan ekspor menurun 2.4 persen. Kedua, konsumsi privat melandai 0.1 persen. Ketiga, belanja modal (CAPEX) tumbang 0.3 persen. Semua ini bisa jadi tantangan baru bagi rencana PM Shinzo Abe untuk menaikkan pajak penjualan dari 8 persen menjadi 10 persen pada bulan Oktober mendatang.

"Semua komponen penting dalam GDP itu negatif," ujar Hiroaki Muto, pimpinan ekonom di Tokai Tokyo Research Center, kepada Reuters. "Perekonomian sudah memuncak, jadi kita kemungkinan akan mengalami sebuah resesi lunak. Tak ada yang akan menolak untuk menunda kenaikan pajak penjualan."

"Belanja konsumen kemungkinan tetap lemah, karena gaji tak naik terlalu tinggi," kata Kentaro Arita, ekonom senior di Mizuho Research Institute. Lanjutnya, "Pada kuartal kedua, GDP bisa nol atau sedikit negatif karena ekspor akan tetap lemah. Hal ini, dikombinasikan dengan pelemahan belanja modal, menunjukkan adanya risiko resesi."

 

Minat Risiko Pasar Masih Kendalikan Yen

Pasangan mata uang USD/JPY sempat melonjak hingga mencapai level tertinggi sepekan pada 110.32 pada sesi Asia. Selain karena laporan GDP Jepang kurang memuaskan, juga lantaran penurunan minat risiko pasar finansial global seusai pemilu federal Australia. Namun, Yen masih berupaya mempertahankan keunggulannya versus Euro dan Poundsterling saat ini, di tengah beragam kemelut politik yang melanda kedua kawasan tersebut.

USDJPY Daily

Sebagai salah satu mata uang safe haven, Yen biasanya mengalami kenaikan permintaan ketika pasar mengalami gejolak atau ketidakpastian berlebihan. Sebaliknya, Yen cenderung lekas dilepas ketika kondisi mulai tenang kembali, karena imbal hasilnya lebih rendah dibandingkan mata uang negara mayor lain.

288583

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

1 Ags 2019

5 Ags 2019