Advertisement

iklan

Harga Minyak Naik Karena Sanksi Iran Dimulai Satu Bulan Lagi

Harga minyak Brent telah mencapai level sekitar USD82.10 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD72.40 per barel.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak naik nyaris 1 persen pada hari Kamis ini (27/September), karena investor berfokus pada prospek pengetatan suplai di pasar sehubungan dengan akan mulai diberlakukannya sanksi AS atas Iran pada bulan November mendatang. Harga minyak Brent telah mencapai level sekitar USD82.10 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD72.40 per barel.

Grafik Harga Minyak

Pelaku pasar yang diwawancara oleh Reuters mengungkapkan, pasar minyak makin ketat menjelang penerapan sanksi AS atas industri minyak Iran, yang dijadwalkan dimulai pada tanggal 4 November.

"Kami menilai risiko di pasar minyak mentah sangat condong ke atas, dan meskipun kami tak secara eksplisit memperkirakan Brent akan naik ke USD100 per barel, tetapi kami melihat adanya risiko hal itu akan terjadi," papar Mitsubishi UFJ Financial Group dalam sebuah catatan untuk klien.

Catatan historis menunjukkan bahwa level ekspor minyak tertinggi Iran pada tahun 2018 mencapai kurang lebih 3 juta barel per hari (bph), atau sekitar 3 persen dari konsumsi global. Namun, data menunjukkan bahwa ekspor mereka pada bulan September telah jatuh hingga kisaran 2 juta bph, karena para pembeli di berbagai negara tunduk pada tekanan AS dan memangkas impor. Padahal, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) tak memiliki kapasitas memadai untuk mengimbangi penurunan tersebut.

Turut merefleksikan ekspektasi berkurangnya suplai minyak dari Timur Tengah, Oman Crude Futures di bursa komoditas Dubai melonjak ke level tertinggi empat tahun pada hari Rabu kemarin. Harga kontrak bahkan sempat menyentuh lebih dari USD90 per barel.

"Harga minyak tetap berada di wilayah bullish di tengah kekhawatiran kalau sanksi AS atas ekspor minyak mentah Iran akan berakibat pada kondisi pasar komoditas fisik yang lebih ketat, segera setelah sanksi mulai diberlakukan pada November," ungkap Stephen Innes dari OANDA Singapura. Lanjutnya lagi, "Pasar boleh jadi masih meremehkan krisis suplai (yang timbul) dari sanksi atas Iran."

Sementara suplai dari OPEC menurun, pasokan dari Amerika Serikat terus meningkat. Laporan Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa produksi minyak AS mencapai rekor tertinggi 11.1 Juta bph dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 21 September.

285474

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.