Harga Minyak WTI Terkoreksi Di Bawah USD70 Karena Perang Dagang

Eskalasi konflik perdagangan antara AS dan China menekan harga minyak, sementara AS resmi jadi produsen minyak terbesar di dunia.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak global merosot sejak akhir pekan lalu, dikarenakan kekhawatiran akan penerapan bea impor baru oleh Amerika Serikat atas produk-produk China. Eskalasi perang dagang tersebut dikhawatirkan akan mengakibatkan penurunan permintaan atas komoditas minyak mentah, sementara suplai tetap tinggi meski ada penurunan suplai akibat sanksi atas Iran.

Saat berita ditulis pada awal sesi Asia hari Senin (17/September), harga minyak mentah tipe Brent stabil di kisaran USD78.04 per barel, dekat tempatnya terpuruk pada penutupan hari Jumat. Di sisi lain, West Texas Intermediate (WTI) masih sideways di kisaran USD68.92 per barel, setelah lagi-lagi gagal menembus ambang psikologis USD70-71.

 

Harga Minyak 17 September 2018

 

Pada hari Sabtu, seorang pejabat senior AS mengatakan pada Reuters bahwa Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan mengumumkan tarif baru atas impor dari China senilai total USD200 Miliar dalam waktu dekat, bahkan bisa jadi dalam hari Senin ini. Eskalasi konflik perdagangan ini menyemai kekhawatiran di kalangan pelaku pasar kalau-kalau konsumsi minyak global akan mengalami perlambatan.

"Ekspektasi pasar akan terjadinya kekurangan suplai (akibat sanksi atas Iran) telah pupus setelah data pekan lalu menunjukkan kenaikan suplai (dari negara-negara produsen minyak selain Iran); sementara itu, investor telah menurunkan outlook permintaan minyak," ungkap Wang Xiao, pimpinan riset minyak mentah di Guotai Junan Futures, sebagaimana dikutip oleh Reuters.

Laporan rig count yang dirilis Baker Hughes juga turut membebani harga minyak. Menurut perusahaan jasa migas terbesar di dunia tersebut, jumlah oil drilling rigs di Amerika Serikat meningkat sebanyak 7 unit ke angka total 867 dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 14 September; tertinggi sejak Februari 2015. Dengan giatnya aktivitas produksi, Amerika Serikat sudah resmi menggantikan posisi Rusia sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

285318

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.