Hasil Pemilu Inggris Angkat Isu Referendum Brexit, Kemerdekaan Skotlandia

Penghitungan hasil pemilu Inggris saat ini masih berlangsung, tetapi dengan sisa kurang dari dua puluh kursi yang masih belum menentu, berbagai proyeksi mengenai masa depan politik dan ekonomi Inggris sudah bisa diambil. Diantaranya yang menjadi pokok pembicaraan di pasar kali ini adalah potensi referendum terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa, serta kemungkinan akan diulangnya referendum Skotlandia.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Penghitungan hasil pemilu Inggris saat ini masih berlangsung, tetapi dengan sisa kurang dari dua puluh kursi yang masih belum menentu, berbagai proyeksi mengenai masa depan politik dan ekonomi Inggris sudah bisa diambil. Diantaranya yang menjadi pokok pembicaraan di pasar kali ini adalah potensi referendum terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa, serta kemungkinan akan diulangnya referendum Skotlandia.

 

Hasil Pemilu Inggris 2015

 

Diantara 650 kursi yang tersedia di Parlemen Inggris, kini 638 kursi telah jelas siapa pemiliknya. Partai incumbent Inggris, Konservatif, memenangkan pemilu dengan jumlah kursi (tentatif) 317, sedangkan Partai Labour menempati juara dua dengan (tentatif) 228 kursi, dan Partai Nasional Skotlandia (SNP) di peringkat ketiga.

 

Hasil Pemilu Inggris 2015Hasil Perolehan Suara Pemilu Inggris 2015

Di sisi lain, patut untuk dicatat bahwa peraih peringkat ketiga di pemilu 2010, Partai Liberal Demokrat (LibDem), kali ini secara menyedihkan hanya mendapatkan 8 kursi dan melorot ke peringkat keempat dengan selisih sangat besar. Sementara UKIP yang digadang-gadang akan menjadi juara baru di pemilu ini, meski meraih jumlah suara (votes) lebih besar dibanding LibDem tetapi secara aneh hanya mampu mendapatkan satu kursi saja di parlemen, demikian pula Partai Green yang meraih jumlah suara nyaris sama dengan SNP tetapi hanya mendapat satu kursi. Apa arti hasil ini bagi fundamental Poundsterling?

 

1. Referendum Brexit Tahun 2017

Sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas rakyat Inggris tidak menyukai keanggotaan Inggris di Uni Eropa. Pendapat populer ini mendorong naiknya pamor UKIP yang menjanjikan Inggris bakal keluar dari Uni Eropa jika partainya menang pemilu. Dalam merespon situasi tersebut, PM David Cameron sebelumnya menjanjikan bahwa pihaknya akan mengadakan referendum untuk memutuskan apakah Inggris akan tetap tinggal di Uni Eropa atau keluar. Isu yang populer dengan istilah Britain Exit (Brexit) ini menjadi isu kritis bagi mata uang Euro maupun Pounds. Tentu saja, jika Cameron memilih mangkir maka isu ini akan sirna, tetapi jika dilihat dari respon pasar atas kemenangan partai Konservatif kali ini dimana Pounds melonjak dan Euro tertekan, nampaknya pasar menyukai Brexit.

 

2. Referendum Kemerdekaan Skotlandia (Lagi)

Pada tahun 2014 lalu, Skotlandia telah mengadakan referendum terkait apakah mereka akan memisahkan diri dari Inggris atau tidak. Dalam kesempatan tersebut, suara "No" (tidak) menang tipis dengan 55%. Meski demikian, dalam pemilu kali ini, partai yang mengusung kemerdekaan Skotlandia, yakni Scottish National Party (SNP) ternyata meraih kemenangan mutlak di wilayah Skotlandia (lihat warna kuning terang di gambar bagian atas). Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Skotlandia masih percaya pada prospek kemerdekaan mereka dari Inggris. Pimpinan SNP, Nicola Sturgeon, pun telah mengisyaratkan niat mereka untuk terus memperjuangkan otoritas daerah yang lebih luas bagi masyarakat Skotlandia serta referendum kemerdekaan lagi.

 

3. Stabilitas Kini, Goncangan Kedepan

Kemenangan incumbent Partai Konservatif memastikan bahwa tidak akan ada perubahan signifikan terkait kebijakan ekonomi dan alokasi anggaran negara. Namun, sebesar-besarnya kemenangan partai Konservatif, jumlah kursi yang dikuasai hanya sekitar setengah dari parlemen. Lebih buruk lagi, kawan koalisi-nya tahun 2010 lalu, Liberal Demokrat, tengah menderita kekalahan parah. Ini bisa jadi akan jadi awal terlahirnya parlemen yang terbelah. Kedepan, pencapaian keputusan-keputusan kritis bisa jadi lebih sulit, apalagi bila partai-partai rivalnya berkoalisi.

Lebih dari itu, kemungkinan Brexit memiliki potensi mengganggu hubungan dagang Inggris dengan negara-negara lain di Uni Eropa. Ini, tentu saja, akan meningkatkan ketidakpastian dan risiko yang bisa mengganggu performa ekonomi kedua wilayah sekaligus nilai tukar mata uangnya.

232106

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019