Hasil Pemilu Parlemen Inggris 2017 Menggantung, Apa Maksudnya?

Partai Konservatif berhasil mendapatkan kursi terbanyak di Parlemen, tetapi gagal mencapai mayoritas. Akibatnya, timbul situasi yang disebut Hung Parliament (Parlemen Menggantung). Apa maksudnya?

acy

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Hasil penghitungan real count pemilu Inggris sudah genap pada Jumat siang ini (9/6). Mengamini Exit Poll, Partai Konservatif berhasil mendapatkan kursi terbanyak di Parlemen, tetapi gagal mencapai mayoritas. Dibanding pemilu sebelumnya, perolehan kursi partai yang akrab disebut Tory itu anjlok dari 330 ke 318, sedangkan rival Partai Buruh melonjak dari 232 ke 262. Akibatnya, timbul situasi yang disebut Hung Parliament (Parlemen Menggantung). Apa maksudnya? Dan bagaimana dampaknya pada negosiasi Brexit?

Hasil Pemilu Parlemen Inggris 2017 Menggantung

 

Apakah Partai Dengan Kursi Terbanyak Akan Membentuk Pemerintahan Baru?

Belum tentu. Partai dengan jumlah wakil rakyat terbanyak di Parlemen, biasanya disebut sebagai pemenang Pemilu. Namun, untuk bisa mendudukkan kadernya di kursi Perdana Menteri, dibutuhkan suara mayoritas, yaitu sebagian dari total konstituensi plus satu. Karena ada 650 konstituensi saat ini, maka dibutuhkan 326 kursi untuk membentuk faksi mayoritas. Sayangnya, berdasarkan hasil Pemilu Inggris 2017, tak ada satu partai pun mencapai jumlah tersebut.

Dengan demikian, apabila partai dengan perolehan terbanyak kedua mampu berkoalisi dengan partai lainnya, maka ada kemungkinan PM Theresa May dipaksa lengser.

 

Apa Itu Parlemen Menggantung?

Parlemen Menggantung adalah situasi dimana tak ada partai yang berhasil mencapai mayoritas di Parlemen. Hal ini pernah terjadi juga pada Pemilu Inggris 2010.

Dalam kondisi Parlemen Menggantung, pemerintahan petahana akan tetap bekerja seperti biasa dan Theresa May masih tinggal di kediaman PM di Downing Street, hingga diputuskan siapa yang akan membentuk pemerintahan baru, atau hingga ia mengundurkan diri.

Setelah ini, akan ada banyak diskusi antara para pemimpin partai dan tim negosiasi mereka dalam upaya untuk membentuk koalisi. Dua pemimpin partai yang saat ini memiliki peluang bagus untuk memperebutkan jabatan PM adalah Theresa May dari Partai Konservatif dan Jeremy Corbyn dari Partai Buruh.

PM May bisa saja tak berkoalisi dengan pihak manapun dan memaksa menjalankan pemerintahan minoritas, tetapi akan lebih sulit baginya untuk meloloskan Undang-Undang atau menjalankan negosiasi Brexit dengan Uni Eropa.

 

Berapa Lama Situasi Parlemen Menggantung Akan Berlangsung?

Tak ada batas waktu tertentu. Saat hasil pemilu parlemen menggantung pada tahun 2010, hanya dibutuhkan waktu lima hari hingga terbentuk koalisi. Namun, sebenarnya bisa butuh waktu lebih lama dari itu.

Untuk sementara, deadline bagi pembentukan pemerintahan baru adalah 13 Juni saat anggota-anggota Parlemen baru berkumpul untuk pertama kalinya. PM May memiliki waktu hingga tanggal ini untuk menyusun koalisi atau mengundurkan diri.

Jika hingga 13 Juni masih belum jelas apakah May atau Corbyn yang akan jadi PM, maka pemerintahan PM May yang masih berkuasa perlu berupaya meloloskan cukup rancangan Undang-Undang untuk disampaikan pada event Pidato Ratu (Queen's Speech) tanggal 19 Juni. Tantangannya, diskusi sengit akan terjadi karena tak ada cukup suara mayoritas di sisi Konservatif. Bahkan, bisa saja Queen's Speech tidak disampaikan oleh Ratu Elizabeth II jika belum ada kepastian mengenai siapa yang akan mengepalai pemerintahan baru.

 

Apa Yang Akan Terjadi Pada Negosiasi Brexit?

Menurut BBC, negosiasi Brexit bisa tertunda jika Parlemen menggantung berkepanjangan atau bila Jeremy Corbyn menjadi PM. Negosiasi Brexit dijadwalkan dimulai pada 19 Juni; tetapi bila dibutuhkan waktu lebih lama untuk membentuk pemerintahan baru, maka Inggris dapat meminta Uni Eropa untuk merubah schedule.

Bagi Pounds, ini bisa diartikan sebagai kabar baik maupun kabar buruk. Menurut sejumlah analis, kondisi parlemen menggantung atau naiknya Corbyn ke kursi PM boleh jadi mengantarkan pada situasi Soft Brexit yang cenderung disukai pelaku pasar finansial. Akan tetapi, dalam periode yang sama, Inggris akan kesulitan menggolkan kebijakan-kebijakan baru, dan ini dapat berdampak pada aspek-aspek lainnya, termasuk memperpanjang waktu yang diperlukan untuk proses Brexit. Apalagi, selama parlemen menggantung, ada pula kemungkinan PM May akan berhasil membangun koalisinya sendiri, sehingga mampu mempertahankan pemerintahan mayoritas dan melaju dengan Hard Brexit.

279248

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019