Indeks Dolar AS Lanjutkan Kemerosotan Pasca Rapat FOMC Juni

Indeks Dolar AS telah mencatat penurunan tiga hari beruntun, tetapi ada sejumlah faktor lain yang akan memengaruhi pergerakan berikutnya.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) kembali menorehkan candle merah dan bergerak di kisaran 96.60 pada awal sesi Eropa hari ini (21/Juni). Penurunan beruntun yang dipicu oleh pernyataan dovish pasca rapat FOMC juga diderita oleh yield obligasi pemerintah AS (US Treasury), sehingga meningkatkan tekanan jual terhadap Dolar AS dalam jangka pendek. Saat berita ditulis, EUR/USD naik lagi sebesar 0.1 persen ke level 1.1302, tetapi Greenback tampak berupaya rebound terhadap mata uang mayor lain.

DXY DailyGrafik DXY Daily via Tradingview.com

Yield US Treasury bertenor 10-tahunan sempat anjlok ke level 2.00 persen, setelah pengumuman FOMC mengindikasikan kemungkinan Fed akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Saat ini, posisinya masih dalam kisaran level terendah sejak tahun 2017, tetapi sudah sedikit meningkat ke 2.04 persen.

Pasar uang kini memperhitungkan kemungkinan lima kali pemangkasan suku bunga Fed hingga pertengahan tahun 2020, dimulai dengan satu kali pemangkasan sebesar 25 basis poin pada bulan Juli. Hal ini mendorong aksi jual terhadap Dolar AS dalam jangka pendek. Akan tetapi, berikutnya pelaku pasar kemungkinan bakal melakukan perhitungan ulang, karena bank-bank sentral lain juga telah mengekspresikan rencana dovish.

"Dolar terbatasi di sisi atas, karena kita sudah mengantisipasi lebih banyak pemangkasan suku bunga setelah rapat Fed bulan Juli," kata Junichi Ishikawa, pakar strategi forex senior di IG Securities, kepada Reuters. Namun, Ia menambahkan, "Bank-bank sentral sedang bersaing untuk melonggarkan kebijakan, jadi pertanyaannya adalah mata uang mana yang (lebih baik untuk) dijual."

Minggu depan, pelaku pasar akan menyoroti ajang KTT G20 di mana Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan akan berjumpa dalam upaya untuk menyelesaikan sengketa dagang kedua negara. Namun, sejumlah analis mewanti-wanti bahwa kemungkinan tercapainya resolusi final amatlah kecil. Perlu diingat kembali, kedua tokoh dunia itu juga sempat melakukan perundingan serupa pada KTT G20 tahun lalu, tetapi upaya negosiasi yang dirintis saat itu akhirnya bubar pada awal tahun ini. Ketika risiko global meningkat, Dolar AS termasuk mata uang safe haven yang cenderung mengalami penguatan relatif versus mata uang berisiko lebih tinggi.

288924

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019

15 Jul 2019