Isu Fundamental Yang Akan Mempengaruhi Forex Dan Gold Tahun 2019

Pounds dan Gold didukung isu fundamental yang akan mempengaruhi pasar tahun 2019, sedangkan prospek mata uang komoditas tergantung data.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Sepanjang tahun 2018, investor dan trader di pasar keuangan global menyaksikan betapa isu politik makin naik pamornya sebagai penggerak harga berbagai aset, baik pair Forex, Gold, maupun Oil. Selain kecenderungan "buy the rumour, sell the news", juga diramaikan oleh simpang siurnya beragam ekspektasi mengenai eskalasi konflik perdagangan AS-China, AS-Eropa, AS-Meksiko-Kanada; negosiasi Brexit; jungkat-jungkit pasar saham; dan lain sebagainya.

Asyiknya, bagi trader Forex dan Gold yang suka bermain risiko pada jangka pendek, besar peluang kalau semua gejolak yang memancing volatilitas tinggi ini bakal berlanjut hingga tahun 2019. Berikut ini ulasan selengkapnya.

 

Akhir Negosiasi Brexit, Waktunya Long Pound?

Berdasarkan kesepakatan awal setelah dipicunya Article 50, Inggris dijadwalkan akan keluar dari Uni Eropa pada tanggal 29 Maret 2019, pukul 11:00 pm waktu setempat. Seiring mendekatnya momen itu, Brexit ditakdirkan menentukan arah pergerakan Poundsterling.

Pengaruh Brexit Pada GBPUSD

Untuk soal ini, penulis ingin mengutip John Kicklighter, Chief Currency Strategist DailyFX. Ia menuturkan secara bernas dalam sebuah ulasannya yang berjudul menggoda, "Top Trade Idea for 2019: Long Pound, Short US Equities, Long Gold", mengenai mengapa Pounds akan terus membuka peluang trading menarik bagi trader:

"Dengan mempertimbangkan betapa volatile diskusi sepanjang 2018, cukup beralasan untuk mengantisipasi kemunduran negosiasi lebih lanjut pada bulan-bulan awal 2019. Saya kurang tertarik untuk trading apapun selain peluang-peluang jangka pendek pada Sterling selama mata uang ini menyusun kekuatannya di tengah ketidakpastian itu. Namun demikian, ketika ada sebuah resolusi jelas, terhapuskannya ketidakpastian akan membuka jalan bagi sebuah tren -walaupun arahnya bisa jadi ambigu."

"Sebuah 'no-deal' akan mendorong Sterling jatuh lebih jauh, tetapi begitu persetujuan dagang awal disepakati dengan pihak-pihak kunci, mata uang ini akan mulai pulih dari level yang jauh lebih rendah. Sedangkan jika ada kompromi -yang sangat mungkin menjadi skenario di titik tengah ini- Pound akan mulai meningkat dalam bulan-bulan berikutnya sejalan dengan penerapannya. Apabila ada referendum kedua, sejumlah ketidakpastian akan tersisa hingga penghitungan suara."

"Pembatalan Brexit bisa memicu reli Sterling; sedangkan penegasan keputusan (Brexit tak bisa dibatalkan) akan memundurkan waktu pemulihan -ini merupakan satu-satunya skenario yang saya ekspektasikan tak mendorong pemulihan Pound secara lebih sistemik. Tak ada waktu atau level-level tertentu di sini, tetapi memang demikianlah fitrahnya trading -semakin tak jelas level-level kunci dan jadwalnya, maka makin signifikanlah pergerakan akhirnya."

"Untuk pasangan mata uang, preferensi saya kurang condong pada (mata uang) yang berisiko tinggi dan lebih pada (mata uang) yan bergantung pada likuiditas: GBP/USD dan EUR/GBP."

 

Comdoll Dibebani Harga Komoditas, Perlambatan Ekonomi Dunia

Deadline isu geopolitik lain yang akan dihadapi oleh pelaku pasar tahun depan adalah negosiasi AS-China selama 90 hari mulai awal Januari. Sejauh ini, proyeksinya masih sangat pesimis; selain karena attitude Trump yang angin-anginan, juga karena China belum menampilkan itikad baik untuk memenuhi tuntutan pokok AS. Bahkan, China bisa saja mengulur-ulur waktu dengan negosiasi sambung-menyambung hingga masa jabatan Trump berakhir dua tahun lagi.

Gegara berbagai konflik perdagangan yang dipicu Trump, Dolar Australia beserta Comdoll lainnya dan mata uang negara-negara berkembang telah terimbas cukup besar sepanjang tahun 2018. Namun, masih sulit untuk menerawang bagaimana proyeksi pergerakan mata uang-mata uang itu, dalam korelasinya dengan kondisi fundamental ini. Jika pihak-pihak terkait terus menerus mengulur waktu, maka bukan tidak mungkin kalau isu ini bakal dikesampingkan oleh pasar untuk kembali melirik harga-harga komoditas, termasuk minyak mentah.

Sejak Oktober-Desember 2018, harga minyak mentah telah tumbang sekitar USD30 per barel. Hal ini menimbulkan kegemparan yang membuat Presiden AS Donald Trump murka dan banyak investor kebakaran jenggot. Masalahnya, pada awal tahun, banyak proyeksi bullish atas minyak didasarkan pada imbas pengenaan kembali sanksi nuklir atas Iran oleh AS. Namun, nyatanya hal itu tak terjadi karena negara-negara lain menggenjot produksi terlalu tinggi, sementara produksi minyak Iran hanya turun tipis, lantaran banyaknya pihak yang mengimpor meski diancam sanksi AS.

Pergerakan Harga Crude Oil 2018

Dalam hal ini, harga minyak mentah kemungkinan baru terstabilkan pada kuartal kedua. Kesepakatan pemangkasan produksi minyak yang dicanangkan kembali oleh OPEC, Rusia, dan sejumlah negara produsen lainnya untuk menanggulangi kejatuhan harga akibat melimpahnya surplus, baru akan efektif mulai Januari mendatang, dan butuh waktu untuk membuahkan hasil. Namun, proyeksi ini pun bisa batal kalau sinyal perlambatan ekonomi dunia makin nyata, hingga mengakibatkan anjloknya permintaan atas berbagai jenis komoditas utama.

Terkait dengan topik tersebut, trader akan menyaksikan peningkatan prevalensi data-data seperti GDP China, harga minyak (WTI maupun Brent), yield obligasi pemerintah, dan performa pasar saham (Dow Jones) sebagai barometer minat risiko dalam berita-berita Forex. Jika Anda belum menandai jadwal rilis GDP China pada kalender ekonomi, sebaiknya lakukan dengan segera. Harga minyak, yield obligasi, dan indeks saham dapat diperoleh dengan mudah di TradingView, Yahoo Finance, Investing, maupun sumber lain, dan ada baiknya level-level psikologis dipantau di setiap sesi New York.

 

Saatnya Safe Haven Naik Panggung

Di tengah meningkatnya keresahan pasar soal proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, salah satu aset yang bakal diuntungkan adalah Gold, karena fungsinya sebagai "The Ultimate Safe Haven". Reli bullish Gold (XAU/USD) sudah dimulai tiga bulan terakhir ini dan melejit lebih dari 4 persen dalam bulan Desember-sejujurnya, lebih cepat dibandingkan ekspektasi awal penulis tahun lalu.

Pergerakan Harga Gold 2018

Walaupun emas kemungkinan diawali dengan koreksi pada awal tahun depan, tetapi ada peluang bagi logam mulia ini untuk naik lebih tinggi lagi. Apalagi kalau ternyata bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga kurang dari dua kali, padahal laju inflasi naik sesuai ekspektasi. Namun, trader dan investor harus berhati-hati agar tak menaruh pengharapan yang kelewat tinggi.

Survey Kitco News baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas investor ritel cenderung bullish secara ekstrim pada Gold. Dari nyaris 5,000 responden yang terlibat dalam polling online, sebanyak 34 persen mengekspektasikan harga akan mencapai lebih dari USD1,500 per ounce.

Proyeksi Harga Gold 2018

Bias bullish di kalangan ritel ini jauh lebih rendah ketimbang tahun lalu. Pada survei di akhir tahun 2017, sebanyak 40 persen dari sekitar 18,000 responden memperkirakan harga akan naik sampai lebih dari USD1,400 pada tahun 2018 -dan kita tahu hari ini bahwa ekspektasi itu terlalu berlebihan.

Patut untuk diperhatikan, sebuah laporan survey lain yang dipantau oleh Kitco menunjukkan bahwa mayoritas analis Wall Street mengekspektasikan harga Gold akan naik secara sedang-sedang saja. Mayoritas "big boys" memperkirakan rerata harga sekitar USD1,300 per ounce saja pada tahun depan, sedangkan proyeksi paling bullish hanya mencapai USD1,400.

"Kita bergerak menuju lingkungan yang sangat mendukung bagi Gold," ujar Michael Midmer, pakar strategi logam di Bank of America Merrill Lynch, salah satu analis yang berpandangan bullish, "Peningkatan frekuensi drawdown pasar saham, penarikan bertahap Quantitative Easing (QE), volatilitas pasar makro secara umum yang lebih tinggi, dan peningkatan risiko geopolitik, semestinya terus mendukung pembelian Gold saat harganya terkoreksi (buying on the dips)."

Secara pribadi, penulis memproyeksikan target di kisaran USD1300-1350. Artinya, ada peluang bagi trading jangka pendek yang menyasar beli saat harga turun. Namun, tak banyak peluang ambil cuan bagi investor jangka panjang yang baru beli awal tahun 2018. Kecuali ada kejutan yang menggemparkan pasar dan meningkatkan daya tarik emas.

Kejutan bisa bersumber dari mana saja. Khususnya karena rumor "keruntuhan pasar saham" yang sebelumnya diramalkan akan terjadi pada tahun ini, ternyata hanya setengah jalan. Pasar saham AS yang kondisinya overpriced masih alot untuk turun dan jadi semacam bom waktu yang kita tak tahu pasti kapan akan meledak.

286814

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019