OctaFx

iklan

Isu Government Shutdown Kembali Membayangi Dolar AS

Ini merupakan ancaman Government Shutdown kesekian kalinya dalam sejarah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Awal pekan ini, rumor terkait Government Shutdown kembali beredar di media massa Amerika Serikat. Bentrokan berkelanjutan antara Presiden AS Donald Trump yang dibekingi partai Republik dengan pihak oposisinya, partai Demokrat, membuat rencana anggaran AS sulit disepakati. Akibatnya, kantor-kantor pemerintah AS terancam tutup lagi pada 22 Desember mendatang.

Pokok perkara adalah silang pendapat mengenai anggaran bagi pembangunan tembok perbatasan Meksiko-AS. Sebelumnya, isu ini telah berulangkali menggagalkan pengesahan anggaran negara AS. Kini, situasi kembali menajam. Trump bersikeras menuntut anggaran USD5 Miliar bagi tembok tersebut, sementara kubu Demokrat menolak memberikan anggaran lebih dari USD1.3 Miliar.

US Government Shutdown

 

Bentrokan Gedung Putih vs Demokrat

Menurut laporan The Washington Post hari ini, persiapan untuk menghadapi Government Shutdown parsial tengah dilakukan oleh Gedung Putih beserta sejumlah lembaga federal AS lainnya. Pasalnya, Presiden Trump dan kubu Demokrat agaknya takkan bisa mencapai kesepakatan soal alokasi anggaran bagi pendirian tembok perbatasan AS-Meksiko dalam waktu dekat, padahal anggaran bagi sejumlah lembaga federal dijadwalkan akan habis pada akhir pekan ini.

"Kami akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk membangun tembok perbatasan," tegas penasehat senior Gedung Putih, Stephen Miller, dalam sebuah interview dengan CBS. Sedangkan mengenai prospek Shutdown, Miller mengatakan, "Apabila harus, tentu saja. Ini masalah fundamental."

Di sisi lain, pada wawancara dengan kantor berita NBC, Charles E Schumer, salah satu perwakilan Demokrat di Senat AS, mengatakan bahwa mereka takkan memberikan anggaran USD5 Miliar yang diinginkan Trump untuk membangun tembok perbatasan tersebut. Katanya, "Presiden Trump harus paham, tak ada suara bagi tembok itu, di House maupun Senat. Ia takkan mendapatkan tembok itu dalam bentuk apapun."

Perbatasan AS-Meksiko

 

Kesempatan Terakhir Bagi Tembok AS-Meksiko

Ketegangan ini merupakan bentrokan kesekian kalinya antara Trump dan Demokrat dalam hal anggaran belanja negara. Awal tahun 2018, konflik berefek Government Shutdown juga mengemuka, tetapi kemudian berhasil diselesaikan dengan kompromi antara kedua belah pihak.

Pada pemilu terakhir, Demokrat sukses merebut suara mayoritas House of Representatives (majelis rendah dalam sistem bikameral Parlemen AS), sementara Republik berhasil mempertahankan dominasi di Senat (majelis tinggi). Dengan terjadinya konflik ini, para wakil rakyat lama kemungkinan terpaksa mengakhiri masa jabatan dengan catatan merah Government Shutdown, sedangkan para wakil rakyat baru yang akan dilantik pada Januari mendatang juga kemungkinan kecil dapat memecahkan deadlock.

Saat ini, para pemimpin kubu Republik di Parlemen AS sibuk mencari alternatif jangka pendek untuk menghindari Shutdown. Namun, pejabat Gedung Putih mensinyalkan bahwa mereka takkan mendukung perundangan cadangan yang hanya bertempo satu-dua minggu saja.

Donald Trump

Beberapa pakar yang diwawancarai The Washington Post meyakini bahwa Shutdown pada sebagian lembaga pemerintahan bisa berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu. Pasalnya, Trump meyakini bahwa detik-detik terakhir dominasi partai Republik di kedua "kamar" Parlemen AS merupakan kesempatan terbaiknya untuk mendapatkan anggaran USD5 Miliar bagi pembangunan tembok perbatasan Meksiko-AS, sebelum House diambil alih Demokrat pada Januari.

 

Proyeksi Efek US Government Shutdown Pada Dolar AS Kali Ini

Di tengah lansekap politik yang tidak menentu ini, apa pengaruhnya bagi Dolar AS? Dalam situasi wajar, rumor mengenai Government Shutdown dapat menjatuhkan Dolar AS. Namun, ada dua faktor yang membuat kekuatan Dolar AS sulit digerogoti saat ini.

Pertama, situasi politik-ekonomi di negara-negara mata uang mayor lainnya justru lebih buruk dibandingkan AS. Masalah Brexit masih membelit Poundsterling dan isu perlambatan ekonomi global mengintai Comdoll.

Sementara itu, rilis data inflasi konsumen Zona Euro tadi sore yang hanya mencapai 1.9 persen (year-on-year) pada bulan November -dirilis hanya empat hari setelah ECB mengakhiri program pembelian obligasi- menggarisbawahi hilangnya momentum pertumbuhan di kawasan 19 negara ini. Walaupun Euro nampak menguat hingga saat ulasan ini ditulis, tetapi itu karena bias dari pelemahan Dolar AS yang dihantam isu Government Shutdown ini dan penantian menjelang event penting besok, dan bukan karena kekuatan fundamentalnya sendiri.

Kedua, probabilitas kenaikan suku bunga Fed yang akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan. Meskipun ada kekhawatiran kalau Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga lagi pada tahun 2019, tetapi kita tak boleh lupa bahwa mereka merupakan satu-satunya bank sentral mayor yang berbias hawkish. Hal ini telah mendorong Indeks Dolar AS ke puncak tertingginya tahun ini pada akhir pekan lalu.

Indeks Dolar AS Daily

Untuk sementara ini, Dolar AS boleh jadi tertekan akibat rumor Government Shutdown dan minat "wait and see", sehingga tergelincir beberapa persen di bawah level tertinggi tahun ini yang tercapai pada akhir minggu lalu. Namun, kuncinya masih terletak pada konferensi pers pasca rapat Fed (FOMC) pada hari Kamis dini hari (20 Desember 2018/02:30 WIB).

Selama pihak Trump dan Demokrat belum mencapai titik temu, isu Shutdown merupakan "sampingan" di tengah penantian pengumuman tersebut. Jika FOMC mengindikasikan masih ada probabilitas beberapa kenaikan suku bunga lagi pada tahun 2019, maka Greenback boleh jadi tetap bullish dan hanya agak tertahan oleh isu Shutdown. Namun, jika FOMC mengamini kekhawatiran pasar soal tidak akan dilakukannya kenaikan suku bunga pada tahun 2019, maka masalah Shutdown bisa memperbesar efek bearish dari pesan dovish tersebut.

286653

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


24 Sep 2019