Advertisement

iklan

Jelang Rilis Data GDP, Reli Dolar AS Ditahan Yield Obligasi Lagi

Reli Dolar AS terhenti sementara yield obligasi jangka panjang terkoreksi lagi, karena rilis data GDP AS nanti malam dikhawatirkan menunjukkan perlambatan.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Indeks Dolar AS (DXY) melandai sekitar 0.1 persen ke kisaran 96.90 pada awal sesi Eropa hari Kamis ini (28/Maret), setelah yield obligasi pemerintah AS bertenor 10-Tahunan kembali jatuh ke bawah yield obligasi 3-Bulanan. Saat berita ditulis, pasangan mata uang EUR/USD berupaya rebound dari level terendah dua pekan, sementara USD/JPY terperosok 0.33 persen ke level 110.15. Yield obligasi jangka panjang terkoreksi lagi, karena rilis data GDP AS nanti malam dikhawatirkan akan menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam kuartal IV/2018.

DXY Daily

Pada akhir sesi New York dini hari tadi, yield obligasi AS bertenor 10-Tahunan (10-Year US Treasury) terguling lagi ke level 2.358 persen. Padahal, yield obligasi bertenor 3-Bulanan masih berada pada level 2.447 persen. Posisi yield obligasi jangka panjang yang lebih rendah dibandingkan yield obligasi jangka pendek (pembalikan kurva yield obligasi) seperti ini telah disinyalir sebagai salah satu sinyal resesi. Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, USD melemah terhadap Yen Jepang dan Gold.

Data NBER menunjukkan bahwa pembalikan kurva yield telah terjadi sebelum tujuh kali resesi yang pernah dialami oleh AS sebelumnya. Sedangkan menurut data Reuters, pembalikan kurva yield telah terjadi sebelum setiap resesi dalam 50 tahun terakhir, dan hanya sekali saja muncul sebagai false signal dalam kurun waktu tersebut.

Nanti malam, sejumlah event penting akan dipantau oleh pelaku pasar untuk menentukan arah pergerakan Greenback selanjutnya. Diantaranya rilis data GDP Final untuk Kuartal IV/2018, klaim pengangguran mingguan, Pending Home Sales, serta pidato beberapa pejabat bank sentral AS (Federal Reserve) seperti Patrick Harker, Raphael Bostic, John Williams, dan Randal Quarles.

Estimasi awal GDP AS memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2.4 persen (Year-on-Year) pada akhir tahun lalu, lebih rendah dari pencapaian 2.6 persen pada penghitungan sebelumnya. Apabila angka aktual ternyata lebih baik dibandingkan estimasi, maka dapat memupuskan spekulasi mengenai indikasi resesi. Namun, investor dan trader juga akan memantau pidato pejabat-pejabat Fed untuk menerka arah kebijakan moneter selanjutnya, serta penilaian resmi mengenai outlook ekonomi dan potensi resesi saat ini.

287941

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019