Kasus Inflasi Bangsa Zimbabwe

Artikel ini akan membahas mengenai akibat dari adanya depresiasi mata uang yaitu Inflasi. Inflasi yang kecil umumnya dianggap sebagai hal yang baik, namun inflasi terlalu banyak bisa menjadi bencana bagi perekonomian suatu bangsa.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Artikel ini akan membahas mengenai akibat dari adanya depresiasi mata uang yaitu Inflasi. Inflasi yang kecil umumnya dianggap sebagai hal yang baik, namun inflasi terlalu banyak bisa menjadi bencana bagi perekonomian suatu bangsa.

Pada saat harga meningkat karena inflasi berarti Anda dapat membeli sedikit barang dengan jumlah uang yang sama. Harga yang lebih tinggi bisa menjadi hal yang buruk. Ketika inflasi terlalu tinggi, maka bank sentral dapat meningkatkan suku bunga untuk membawa inflasi kembali turun. Untuk memahami lebih dalam tentang inflasi, mungkin Anda dapat melihat contoh dari Zimbabwe, sebuah negara dengan perekonomian yang benar-benar dirusak oleh kenaikan harga dalam menghadapi depresiasi mata uang.

Studi Kasus Inflasi
Zimbabwe adalah sebuah negara kecil yang terletak di bagian selatan benua Afrika. Bangsa ini berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris sampai tahun 1965, ketika sebuah perjuangan untuk kemerdekaan dimulai. Perjuangan itu mencapai puncaknya pada tahun 1979, dimana pemilu pertama akan diadakan tahun berikutnya. Dalam pemilu tersebut, Robert Mugabe menang besar dan mengambil peran utama sebagai 'pemimpin' negara.

Sejak saat itu, negara telah menghadapi kesulitan yang dahsyat. Sebuah program 'land reform' dimulai tak lama setelah pemilu tersebut. Berdasarkan peraturan tersebut, kepemilikan tanah diredistribusikan. Akibatnya, banyak tanah diambil dari petani dan diberikan pada para pendukung Mugabe dengan dalih "redistribusi".

Meskipun demikian, perekonomiannya saat itu masih sanggup tumbuh dengan rata-rata 4 persen antara tahun 1980-1990. Di dekade berikutnya, Zimbabwe menikmati pertumbuhan yang lebih tinggi, tetapi kemudian segalanya berubah pada tahun 2000.

Tak senang dengan program 'land reform'-nya yang gagal meredistribusikan tanah dengan cepat, Robert Mugabe mulai memberlakukan redistribusi paksa pada tahun 2000. Sebelumnya, perpindahan tanah dari satu pemilik ke pemilik lain masih mengikuti asas suka-sama-suka, "Anda Jual, Saya Beli", tetapi program 'fast-track land reform' Mugabe itu merubah situasi.

Inilah titik balik penting bagi perekonomian mereka. Agrikultur merupakan ekspor utama Zimbabwe, tetapi banyak lahan pertanian dan peternakan (farms) sebelumnya memproduksi komoditas ekspor kini dikelola oleh orang lain. Pada banyak kasus, pasca redistribusi, lahan-lahan itu dipegang oleh pegawai pemerintah yang tidak tahu menahu bagaimana harus mengelolanya. Inflasi pada tahun 2000 di Zimbabwe mencapai lebih dari 55 persen, dan hanya dalam satu tahun berikutnya di 2001 sudah melempaui 112 persen. Sebagai referensi, ini adalah gambar dari catatan dalam mata uang dolar Zimbabwe pada saat itu:


Kasus Inflasi Bangsa

Seiring dengan makin banyaknya lahan yang diredistribusikan, makin besar investasi terbang ke luar negeri. Para investor mulai kehilangan kepercayaan pada Zimbabwe, dan tidak ingin mengambil risiko dana-dananya terikat pada rezim pimpinan Mugabe. Saat tahun 2003 tiba, inflasi mencapai 598 persen.

Sejalan dengan makin banyaknya investasi yang mengalir keluar, Dolar Zimbabwe terus ambruk. Belakangan, Amerika Serikat kemudian menjatuhkan sanksi kepada Zimbabwe, dan ini membuat masa depan negeri itu kian suram. Di sisi lain, banyak produk kebutuhan penting bagi Zimbabwe harus diimpor dari luar negeri. Karena mata uangnya sendiri terdepresiasi, maka harga produk-produk itu jadi makin mahal, sehingga kian mempersulit upaya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sandang, pangan dan papan

Pada tahun 2006, blunder lain dilakukan oleh pimpinan bank sentral Zimbabwe, Dr Gideon Gono, yang melakukan 're-evaluasi' mata uang dengan mencetak mata uang baru. Dolar Zimbabwe baru itu dikatakan akan bernilai 1000 dolar Zimbabwe lama. Padahal, inflasi di tahun 2006 itu sudah mencapai 1,281 persen, menjadikan momen yang tidak tepat untuk melakukan kebijakan redenominasi semacam itu. 

Akibatnya, kebijakan tersebut gagal mengembalikan kepercayaan investor maupun masyarakat dan malah memicu aksi jual baru. Pantang putus asa, setelah kegagalan pertama itu Zimbabwe melakukan redenominasi dua kali lagi. Setelah redenominasi kedua dijalankan, lembaran uang 50 Dolar Zimbabwe yang kita lihat diatas tadi nilainya menjadi sama dengan lembaran 500,000,000 Dolar Zimbabwe dibawah ini:

Dolar Zimbabwe

Akibat redenominasi berulang-ulang itu, ada empat variasi Dolar Zimbabwe berbeda yang beredar disana dalam waktu tiga tahun saja.

Pada tahun 2007, inflasi sudah mencapai 66,212 persen, dan pada tahun 2008 laju kenaikan harga-harga sudah tidak lagi bisa dikendalikan. Akhirnya, penggunaan mata uang Dolar Zimbabwe dihentikan. Pada beberapa pencetakan uang terakhirnya, lembaran dibawah ini menjadi perhatian dunia internasional:

Kasus Inflasi Bangsa

Setiap redenominasi merupakan pukulan untuk kepercayaan investor di Zimbabwe, dan hasilnya hanya investasi yang kian langka di negara itu. Begitu 'redenominasi' ketiga terjadi,  perekonomian Zimbabwe sudah meninggalkan mata uangnya dan masyarakat beralih menggunakan berbagai macam mata uang asing seperti Dolar Amerika Serikat, Yuan China, Euro, dan lain-lain dalam transaksi sehari-harinya. Ini adalah awal dari spiral yang melanda Zimbabwe. Inflasi bisa menjadi hal yang bagus, tetapi hanya bila berlangsung secara moderat, atau sedang-sedang saja. 

Sumber: DailyFX

117047

Parmadita mengenal forex mulai tahun 2010. Sejak saat itu, menggali beragam pengetahuan dan pengalaman terkait forex dari berbagai sumber, baik tentang indikator teknikal biasa, psikologi trading, maupun Expert Advisor.


30 Apr 2019