Advertisement

iklan

Kelambanan Inflasi AS Dongkrak Harga Emas

Sebagai aset anti-inflasi dan tidak berimbal hasil dalam bentuk bunga, Emas justru dicari investor di tengah ketidakpastian seperti ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Emas melonjak pada perdagangan Rabu malam, sehubungan dengan data inflasi AS yang bersikukuh di level rendah dan mengaburkan dampak kenaikan suku bunga yang diumumkan oleh bank sentralnya (Federal Reserve/Fed). Gold Spot XAU/USD melonjak dari 1244.49 pada penghujung hari Selasa ke 1255.40 pada akhir perdagangan hari Rabu. Pada Kamis pagi ini (14/Desember), XAU/USD masih menanjak lagi sebesar 0.13% ke 1257.19 di platform Bloomberg.

Harga Emas Antam juga meningkat cukup tinggi ke Rp618,000 per gram pagi ini di LM Jakarta Pulogadung, dari Rp613,000 pada hari Senin. Harga buyback pun naik ke Rp550,000 per gram dari Rp 544,000 di awal pekan.

Kelambanan Inflasi AS Dongkrak Harga Emas

 

Kenaikan Suku Bunga  Berhadapan Dengan Proyeksi Inflasi

Federal Reserve telah mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin ke rentang 1.25-1.50 persen pada akhir rapat kebijakan moneternya pada dini hari tadi. Bank sentral AS tersebut juga mempertahankan proyeksi kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2018. Namun demikian, dalam pidato terakhir Pimpinan Janet Yellen, ia menyoroti kelambanan laju inflasi.

Kekhawatiran tersebut dilontarkan Yellen setelah laporan Inflasi Konsumen AS (CPI) menunjukkan bahwa Core CPI tumbuh lebih lambat dibanding bulan Oktober dan lebih rendah dari ekspektasi. Core CPI bulan November hanya tumbuh 0.1% MoM; padahal sebelumnya diperkirakan akan tumbuh 0.2% atau sama dengan bulan Oktober. Dalam basis tahunan, data tersebut juga menurun dari 1.8% ke 1.7%; meskipun Indeks CPI secara umum mengalami kenaikan sesuai ekspektasi dari 0.1% ke 0.4% MoM, atau dari 2.0% ke 2.2% YoY.

Core CPI Year-On-Year

 

Walau sebelumnya diekspektasikan kalau Dolar AS bakal terapresiasi jika Fed menaikkan suku bunga, tetapi realitanya kerisauan akan lemahnya laju inflasi justru lebih diperhatikan pasar. Akibatnya, Indeks Dolar (DXY) anjlok ke level terendah dalam sepekan di 93.458 tadi malam, dan berlanjut selip lagi sebesar 0.05% ke 93.385 pagi ini.

Apabila Inflasi AS di masa depan tetap terkekang di level rendah, maka dikhawatirkan rencana kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2018 akan sulit diwujudkan. Pasalnya, kenaikan suku bunga sebagai salah satu langkah pengetatan moneter, baru dapat dilakukan oleh bank sentral jika ada pertumbuhan inflasi. Di sisi lain, sebagai aset anti-inflasi dan tidak berimbal hasil dalam bentuk bunga, Emas justru dicari investor di tengah ketidakpastian seperti ini.

 

UU Pajak Siap Voting Final

Dari Amerika Serikat juga dilaporkan bahwa anggota Kongres dari partai Republik, baik yang berada di House of Representative maupun Senat, telah menyepakati draft terakhir bagi perombakan UU Pajak untuk disajikan dalam voting pada minggu depan. Berdasarkan draft terakhir ini, pemangkasan pajak korporasi hanya dari 35 persen ke 21 persen, bukan ke 20 persen sebagaimana tercantum dalam draft awal; sedangkan pajak untuk masyarakat kelas atas dipangkas dari saat ini 39.6 persen menjadi 37 persen.

Reformasi pajak AS tersebut diproyeksikan bakal menambah utang nasional sebanyak sekitar $1.5 triliun hingga $20 triliun dalam satu dekade ke depan, sehingga mendapat tantangan kuat dari perwakilan partai Demokrat di Kongres. Sementara itu, jumlah kursi yang dikuasai partai Demokrat di Senat AS baru saja bertambah satu dengan dimenangkannya pemilihan khusus di Alabama oleh Doug Jones, mengalahkan Roy Moore dari partai Republik yang terlibat skandal pelecehan seksual. Dengan proporsi suara Senat sebesar 51 (Republik) banding 49 (Demokrat), maka upaya untuk meloloskan perundangan ini sebelum akhir tahun akan cukup sulit, terutama bila ada anggota partai Republik yang "berkhianat".

Apabila perundangan ini berhasil disahkan, maka bisa memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS tahun depan; karena meski meningkatkan utang, tetapi diharapkan bakal mendongkrak laju inflasi. Sehingga, event ini akan menjadi momen penting berikutnya yang diamati oleh pelaku pasar.

281496

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

23 Juli 2019 16:02

1,422.47 ( 1.17%)

Support : 1,399.07
Pivot : 1,408.58
Resistance : 1,415.56

100% Buy 100% Buy 100% Buy

100% Buy
Selengkapnya