Komentar Kandidat PM Inggris Bikin Sterling Terpuruk

Poundsterling anjlok versus mata uang mayor, karena komentar terbaru dari kandidat Perdana Menteri Inggris meningkatkan potensi No-Deal Brexit.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling merosot 0.5 persen ke kisaran 1.2452 versus Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (16/Juli), walaupun laporan pertumbuhan gaji karyawan Inggris melampaui ekspektasi. Sterling juga terpuruk lawan Euro dan Yen Jepang. Pasalnya, komentar terbaru dari kandidat Perdana Menteri Inggris Jeremy Hunt dan Boris Johnson membuat pelaku pasar semakin mengkhawatirkan potensi No-Deal Brexit.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa klaim pengangguran bulanan meningkat dari 24.5k menjadi 38.0k pada bulan Juni 2019. Namun, tingkat pengangguran bulan Mei 2019 bertahan pada level terendah 3.8 persen. Pertumbuhan gaji rata-rata juga mengalami kenaikan pesat selama Mei. Average Earnings Index+Bonus naik dari 3.2 persen menjadi 3.4 persen, mengungguli estimasi awal yang hanya 3.1 persen.

Biasanya, konstelasi laporan ekonomi seperti ini mendorong Pound melonjak, karena pertumbuhan gaji yang pesat merupakan prekursor bagi peningkatan laju inflasi dan mendukung prospek kenaikan suku bunga. Namun, kabar baik ini hampir tak dipedulikan oleh trader dan investor.

"Data ketenagakerjaan pagi ini mengungguli ekspektasi, dengan tingkat pengangguran mempertahankan level terendah historis dan pertumbuhan gaji terus melampaui inflasi. Namun, Pound tak bisa lega saat ini, karena terus bergumul dengan level terendah enam bulan terhadap Euro dan Dolar AS," kata Hamish Muress, pakar mata uang senior di OFX, "Pada kondisi normal, data ketenagakerjaan positif seperti ini akan mendukung Pound, khususnya karena posisinya saat ini dipandang sudah undervalued oleh banyak pihak. Akan tetapi, saat ini Pound tidak diperdagangkan dengan situasi normal."

Headline media Inggris dihiasi oleh komentar dua kandidat Perdana Menteri Inggris yang disampaikan dalam debat kemarin malam. Jeremy Hunt dan Boris Johnson sama-sama berjanji akan menghapus klausa mengenai Backstop Plan bagi perbatasan Irlandia Utara dari draft kesepakatan brexit, tak peduli apakah klausa itu disertai batasan waktu tertentu ataupun tidak. Investor dan trader menerjemahkan komentar Hunt dan Johnson sebagai sinyal bahwa Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun ("No-Deal Brexit"), meski keduanya menyatakan tetap berupaya melakukan renegosiasi hingga deadline 31 Oktober mendatang.

"Saya tidak tertarik pada batas waktu, atau pintu keluar unilateral, atau segala perangkat canggih, kodifikasi, penjelasan, dan seterusnya, yang bisa Anda terapkan pada Backstop (Plan)," kata Johnson. Rekannya yang memiliki peluang lebih kecil untuk terpilih, Jeremy Hunt, juga sepakat, "Backstop (Plan) itu, sudah mati... Saya kira mengutak-atiknya dengan batas waktu takkan menjadikannya (pilihan yang bagus), kita harus mencari cara baru."

Pada awal pekan, sejumlah analis dari bank-bank terkemuka dunia, termasuk MUFG dan Rabobank, telah mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai proyeksi dinamika politik Inggris di bawah Perdana Menteri baru. Bahkan, mereka mensinyalir Sterling bisa jatuh hingga kisaran 1.2000 versus Dolar AS gegara pergolakan politik yang kemungkinan akan timbul dalam beberapa bulan ke depan.

289262

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.