Advertisement

iklan

Kuroda: BoJ Akan Bahas Penghentian Kebijakan Longgar

Kuroda mengatakan bahwa BoJ akan membahas strategi tepat untuk menghentikan program stimulus masif jika inflasi sudah mencapai target 2 persen.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Pada hari Senin (4/3), Gubernur BoJ (Bank of Japan), Haruhiko Kuroda, mengatakan bahwa bank sentral akan berdikusi mengenai rencana diakhirinya kebijakan moneter longgar dan akan mengkomunikasikannya di waktu yang tepat. Sebelumnya, kebijakan BoJ itu terus dijalankan untuk menggenjot inflasi Jepang.

Kuroda : BoJ Akan Bahas Penghentian

Dalam pernyataannya, Kuroda mengatakan bahwa Bank Sentral Jepang tidak memiliki strategi khusus untuk menghentikan kebijakan moneter longgar, karena butuh waktu yang cukup lama bagi kebijakan tersebut untuk mendorong inflasi mencapai target 2 persen.

Akan tetapi, Kuroda menambahkan bahwa penghapusan kebijakan longgar BoJ tentu saja akan melibatkan kenaikan suku bunga acuan, dan langkah tersebut akan menyusutkan neraca Bank Sentral.

"Untuk memastikan pasar tetap stabil, maka penting untuk mencari strategi dan momentum waktu yang tepat agar penghapusan kebijakan ultra longgar tidak menguncang pasar. Dan ketika waktunya telah tiba, BoJ akan mendiskusikan kembali tentang strategi yang tepat," kata Kuroda.

 

Pernyataan Kuroda BoJ Bernada Dovish, USD/JPY Lanjutkan Reli

Meski sudah menyinggung rencana penghentian kebijakan moneter longgar, Kuroda masih menegaskan bahwa Bank Sentral Jepang akan tetap dengan sabar mempertahankan program stimulus besar-besaran untuk memastikan tingkat inflasi naik hingga target 2 persen. Pasar pun lebih mencerna pernyataan Kuroda mengenai hal tersebut, sehingga komentarnya hari ini dianggap bernada dovish.

Mata uang Yen pun melemah di sesi Asia pagi ini. Pada pukul 09:44 WIB, pair USD/JPY berada di kisaran 111.947, masih melanjutkan reli bullish yang sudah berlangsung selama empat pekan terakhir.

Kuroda : BoJ Akan Bahas Penghentian

Tidak hanya terhadap Dolar AS, Yen juga melemah versus Poundsterling (-0.33 persen), Euro (-0.06 persen), Dolar Australia (-0.23 persen), Dolar New Zealand (-0.22 persen), Franc Swiss (-0.06 persen), dan Dolar Kanada (-0.16 persen). Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Yen menjadi mata uang mayor dengan performa terburuk di sesi Asia awal pekan ini.

287589

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


24 Sep 2019