Advertisement

iklan

Kurs Rupiah Ambruk, Memimpin Aksi Jual Mata Uang Negara Berkembang

Kurs Rupiah mengalami pelemahan terburuk sejak Juni 2018. Terhadap Dolar AS, Rupiah turun 1.4 persen pada hari Jumat ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Kurs Rupiah mencatat penurunan harian paling parah sejak bulan Juni 2018, dengan merosot 1.4 persen terhadap Dolar AS dalam perdagangan hari Jumat ini (8/Maret). Referensi nilai tukar resmi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tumbang dari Rp14,129 menjadi Rp14,223, sementara kurs USD/IDR melonjak ke kisaran Rp14,310 dalam perdagangan spot mata uang. Hal ini disebabkan oleh perubahan sentimen risiko pasar global secara umum.

Kurs Rupiah

Depresiasi Rupiah berlangsung serentak bersama mata uang-mata uang negara berkembang lainnya di benua Asia, setelah pengumuman bank sentral Eropa (ECB) yang menggemparkan pada hari Kamis malam dan data perdagangan China yang mengecewakan pada awal sesi Asia hari ini. Dalam konteks ini, kemerosotan minat risiko pasar telah mendorong penguatan Dolar AS dan melemahkan Rupiah.

Sim Moh Siong dari Bank of Singapore mengatakan kepada Bloomberg bahwa pelemahan Rupiah berhubungan dengan "sedikit pelepasan carry trade yang terjadi saat ini pada semua mata uang negara berkembang yang berbunga tinggi, sebagai akibat dari situasi risk-off. Ini lebih karena situasi risk-off secara umum, kelanjutan dari apa yang terjadi semalam, sehubungan dengan bagaimana pasar menerjemahkan tindakan ECB."

Sedangkan Ha Keon-hyeong, ekonom dari Shinhan Investment Corp, berpendapat, "Kekhawatiran mengenai kebijakan fiskal Indonesia dan pemilu presiden mendatang, dikombinasikan dengan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global, lebih membebani Rupiah ketimbang mata uang negara berkembang lainnya. (Namun) mata uang negara-negara berkembang kemungkinan mendapatkan sejumlah dukungan untuk menguat pada kuartal ketiga (bertepatan dengan) ketika perekonomian dunia diekspektasikan akan rebound."

Menurut laporan Bloomberg, bank sentral Indonesia telah melakukan intervensi untuk membatasi aksi jual atas Rupiah dan obligasi lokal. Sebagaimana disampaikan oleh Nanang Hendarsah, direktur eksekutif manajemen moneter, bank sentral akan membeli obligasi pemerintah dalam "jumlah besar". Gubernur BI, Perry Warjiyo, juga menjanjikan bahwa Bank Indonesia selalu siap untuk menstabilkan nilai tukar.

287671

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


28 Feb 2019

22 Feb 2019